Rabu, 03 November 2010

barrrruuu

Pengalaman Sex bersama Rizqy

By Utinlylaku

submitted October 28, 2010
Translate from:
To
Text Size:

Kami berdua sekelas pada saat itu, kami mulai dari berbagai macam topik dan terkadang menyeggol sedikit dunia sex.

Saat itu saya belum tahu yang namanya onani masturbasi nyoli dll, sampai akhirnya ia memberitahu aku kenikmatan onani, tapi aku pura" sudah pernah. sampai suatu saat ia bermain ke rumahku, kebetulan saat itu tak ada seorang pun di rumahku.

Kami bermain game nonton tv, ngobrol di kamarku yang agak kecil. Suatu saat ia permisi ke toilet untuk buang air. setelah itu ia masuk ke tempat lain dimana ada majalah sex orang tuaku di sana, ia membacanya dengan birahi yang terus memuncak, aku mencarinya dan tidak menemukannya di toilet. Sampai akhirnya saya membuka pintu sebuah ruangan tempat rizqy membaca majalah, ia mengajakku untuk membacanya bersama, kammi baca bersama dengan seksama dan akhirnya ia membuka semua pakaiannya dan mengambil baby oil yang ada di atas meja, ia mengoleskan baby oil tersebut, aku terdiam terpana akannya.

Ia asik onani sendiri dan akhirnya aku ikut onani, itulah saat pertama aku nyoli dan mengeluarkan mani. kami mempraktekan semua yang ada di majalah tadi, kami saling melumat walau saat itu kami belum gay. blowjob kami lakukan bergantian sampai akhirnya menghisap dan menjilati kontol teman.

Sejak saat itu aku mulai ketagihan untuk nyoli, apalagi nyoli bersamanya terkadang kami nyoli di toilet sekolah bersama tanpa mandi karena waktu itu kami belum tahu cara membersihkan najis tersebut.

2,5 thn kemudian kami melakukan perpisahan di sebuah tempat ternama, ia menjadi pengisi acara perpisahan, namun saya tidak. Saat lampu telah dimatiikan dan semua orang keluar dan aku serta rizqy tetap didalam tempat gelap beralaskan karpet empuk, kami langsung menanggalkan pakian dan ia memintaku untuk menjilati tubhnya dan juga kontol supernya, aku juga menyepong kontol sunatnya tersebut di gelapnya ruangan,

Aaaaah Aaaaah, enak tin aaah terus tin, Croot Crooot,

air mani yg dimuncratkannya langsung di jilat olehku, ia bukan serang gay namun aku gay tulen, ia tak mau menyepong kontolku. kami saling berciuman dan tangan kami masih tetap meremas" kontol. Ia duduk dikursi dan aku menghisap kontolnya kembali walaupun tak sampai ejakulasi. Aku pasrah saat ia memasukkan jari tengah serta kontolnya ke dalam lubang anusku.

Sakitt qy, ampuuun, aaah aaah aaah, terusss qy.

Croot Croot airmani untuk kedua kalinya ia muncratkan hari ini dan kali ini menembak anusku, hangat dan nikmat rasanya. kami membersihkan semua sperma di tubuh kami selanjutnya keluar dan membersihkan diri. Terakhir kalinya kami melakukan ciuman perpisahan mungkin selamanya.

Rasa gurih keringat Igun di ujung lidahku

By Negus Johan Pahlawan

submitted November 14, 2003
Translate from:
To
Text Size:

Setelah sekian lama tidak jumpa Igun, tiba-tiba saja dia muncul di depanku. Ketika itu hari Sabtu dan kebetulan aku di rumah."Iseng aja mau ketemu" kata Igun. Aku tidak berkomentar. Diam-diam aku bahagia sekali berjumpa lagi dengan sahabat cowok yang pernah jadi partner sex sejenis di SMU dulu.

Belakangan aku tahu bahwa dia lagi "kosong" baru saja cerai dengan isterinya. Waktu itu, aku juga baru pisah dengan Bang Rizal! Setelah aku hidup bersama selama lima tahun.Akhirnya aku bosan juga barengan sesama laki-laki, selalu harus menurut! Kadang-kadang jadi sasaran cemeti kalau dia lagi keluar nafsu sadisnya! Mula-mula memang enak,tiap hari menyedot kontol besarnya, menjilati keringat dari tubuh kekar berotot! Sebelum aku dientot aku dihajar dulu dengan ikat pinggang, supaya nafsuku bangkit!

Tapi lama-kelamaan instink laki-laki-ku yang mau-nya mandiri dan jadi pemimpin, tak bisa dibendung lagi. Kami berpisah baik-baik dan tetap jadi dua sahabat. Kontolku juga masih ngaceng kalau ketemu mantan cowokku itu! Darahku juga masih berdesir-desir dan jantungku masih berdebar-debar tik,tok, tik,tok - tiap kali jumpa dia! Agh!

Ketika jumpa Igun, dia sudah jadi orang hebat ber-pakaian trendi dan badannya tambah kekar atletis. Diam-diam aku berharap agar Igun mau mengajak aku main sex sejenis lagi seperti waktu masih di SMU. Agh!Pasti nikmatt!Tetapi keinginan itu aku simpan dalam-dalam di batinku! Igun masuk ke dalam rumahku. "Masih seperti dulu" katanya. Aku diam saja. Yah! Memang betul rumah BTN warisan orang-tuaku itu tidak berubah atau bertambah sama sekali.Bagaimana mau menambah?Dari mana aku dapat duit? Aku hanya Satpam dengan gaji pas-pasan. Memang betul kadang-kadang aku dapat job jadi pengawal pengusaha, jadi bodyguard atau jadi ajudan. Tetapi itu sekedar cukup untuk bisa makan dan berpakaian agak trendi dan dandy saja!

Sebagai laki-laki yang homosex yang kadang-kadang menjual diri,aku perlu tampil ganteng dan harus menarik. Kalau bisa, menawan! Kadang-kadang aku juga mendapat tip sebagai upah melayani hubungan sex sejenis. Tapi "easy come, easy go", uang itu tak pernah bisa bertahan lama. Mungkin karena dia tergolong uang cabul atau uang haram!

Setelah kedua orang-tuaku meninggal dunia dan aku nyaris jadi sebatang kara maka kelakuanku menggila seperti penduduk Sodom dan Gomorrah! Kalau dulu di SMU aku hanya main sex dengan Igun.Setelah tak ada orang-tua maka aku bagai burung terlepas dari sangkar!Semua cowok yang bisa aku cicipi aku coba kontol atau lobang pantatnya!Kalau dulu aku hanya makan nasi dan lauk pauknya, maka sekarang menu-ku tak ubahnya seperti makanan babi:pejuh, peluh, iduh [air liur], dan uyuh [air kencing] laki-laki! Gila!Sungguh-sungguh gila! Sementara teman-teman-ku sesama cowok homo bisa-bisanya mengatakan "itu waras" [that's sane] dan "sah-sah saja"! Ta'i!

Apakah kedatangan Igun akan memperbaiki kelakuanku ataukah akan membikin aku tambah gila?Aku mereka-reka dalam hati! Waktu dia merangkulku, kontolku ngaceng. Aku berharap dia berbuat lebih dari itu! Tapi pada kunjungan pertama itu Igun tak berbuat apa-apa.Hanya merangkul saja. Rangkulan sahabat?

Hari Sabtu itu,Igun tidak lama.Dia duduk sebentar dan kami ngobrol sedikit, lalu dia pamit. "Mau kemana Gun?" tanyaku."Shooting" jawabnya pendek!

Lalu dia masuk mobilnya dan berlalu!Sebelum Igun pergi dia sempat minum softdrink yang aku sedia-kan. Masih ada sisa Fanta sedikit di gelasnya. Seperti biasa kalau ada sisa minuman cowok yang aku sukai atau yang aku taksir, aku senang minum sisanya. Dengan rakus aku seruput sisa Fanta yang ada di gelas bekas Igun. Dengan sengaja aku minum dari bagian bekas bibirnya. Agh! Sedappp!

Mobilnya keren dan mahal. Untunglah ketika itu aku sudah punya mobil. Meskipun hanya Kijang. Kalau tidak, mungkin aku bisa frustasi melihat Igun sudah jadi orang hebat dan sukses.Ketika itu aku juga sudah lulus S-1 Sarjana Ekonomi, meski-pun hanya tamatan UT [Universitas Terbuka]!

Aku membeli mobilku dengan uang lendir atau uang pejuh, hasil melacur! Karena itu aku jadi sering khawatir kalau-kalau mobil yang aku beli dengan uang hasil dari melacur itu suatu waktu akan membikin aku celaka!

Anehnya hari Minggu keesokan harinya Igun datang lagi."Gua belum sarapan",katanya begitu tiba.Aku kebetukan baru masak nasi. Aku gorengkan telur mata sapi dan dihidangkan dengan irisan tomat dan ketimun dibubuhi abon dan kecap.Igun makan dengan lahap,tapi tidak mau tambah! Dia minta teh manis dan aku buatkan.Setelah makan, kami menonton TV. Aku lirik jam, baru pukul 08:45, masih pagi!

"John. Gua mau yang seperti dulu" katanya. "Apaan tuh?" tanyaku. Aku bertanya karena betul-betul tidak mengerti. "Ini nih!" katanya sambil membuka risleting celananya dan mengeluarkan kontolnya. "Isepin dong! Kontol gua lagi ngebet banget nih" sambungnya lagi. Aku seperti ditodong!

Aku tarik dia ke kamar tidur dan aku dorong dia terlentang di tempat tidurku.Lalu segera saja dia aku telanjangi. Agh! Igun memang cakep.Otot dada-nya sekarang bagus. Lebih bagus dari dulu. Puting susunya makin menggoda dan ramnbut ketiaknya yang lebat tampak terjepit di bawah lengan atasnya. Jembutnya hitam, lebbatt, amat menggoda!

Kontolnya sudah ngaceng,mengacung ke atas. Tampak tertarik kearah jembutnya, sehingga sisa frenulum-nya di bagian bawah ujung atas kontolnya tampak jelas!Kontolnya tidak langsung aku isap.Aku pijat paha dan kakinya.Dia tampak makin gelisah "Isepin John" dia memohon."Sabar ya", kataku menggoda!

Aku teruskan mengelus seluruh tubuhnya, termasuk kedua puting susunya yang tampak sudah melenting ketat. "Biar tambah enak nih" kataku melanjutkan kerjaku.Lalu aku pun melepaskan pakaianku. Dalam keadaan aku telanjang bulat dan sambil terngaceng-ngaceng, aku berlutut dan mulai mengisap kontol Igun yang sudah lama aku rindukan. Ketika jilatan lidahku dimulai dia mendesis keenakan"Hst..hst!" seperti seekor ular. Dia mulai gelisah dan aku mulai jilat sedot kontolnya : Aaagh! Jilat-sedot, jilat-sedot, jilat-sedot! Igun melenguh seperti kerbau : MMMPH ..MMMPH ..MMMPH! Dia keenakan!

Kontolku yang ngaceng mulai aku kocok dan aku sinkronkan kegiatanku : Jilatsedot kontol Igun, kocok kontol sendiri,jilatsedot kontol Igun,kocok kontol sendiri! Begitu seterusnya dan :.....makin cepat, ...makin cepat, ...makin cepat! Akhirnya pejuh kami tak bisa dibendung lagi untuk tidak muncrat keluar dan ...AAAAGH! CROOOOOOOOOOOOOOT! CROOOOOOOOOOOOOT! CROOOOOOOOOOOOOOT! Pejuh kami muncrat bareng! Keluar ..keluar ..keluar! Meler.. meler ..meler...Pejuh kami yang mula-mula muncrat akhirnya mulai meler..meler..meler.Meleleh bagai-kan ingus dari lobang kencing.Ya! Seperti ingus!

Rupanya kegiatan kami cukup intens dan kamar itu memang gerah dan panas. Tidak heran jika tubuh kami berdua jadi bercucuran keringat. Tetesan keringat mengembun di dada Igun dan sebagian lagi mengalir bagaikan sungai-sungai kecil ke bagian tubuh di bawahnya. Keindahan dunia itu tidak aku biarkan berlalu. Dengan kontolku yang masih saja berlelehan pejuh, aku bangkit dan mulai menjilati keringat di seluruh tubuhnya. Dari dada sampai ke ujung kakinya. Nikmatt! Aku jilati juga puting susunya, ketiaknya, kontol, biji peler,dan lobang pantatnya. Yang terakhir jari-jari kakinya aku sedot-sedot seperti orang menyedot tulang ayam yang ada dalam hidangan sup! Aaggh! Keringatnya gurihh! Keringat Igun memang gurih, terasa gurih di ujung lidahku. Nikmatt!

[Tamat/ The End]


Aturan Memakai Enema Sebelum Main Sex

By Negus Johan Pahlawan

submitted January 18, 2003
Translate from:
To
Text Size:

Dalam hatiku aku selalu menyanggah bahwa aku jual diri atau melacur, walaupun pada kenyataannya aku sudah seperti Gigolo,atau tepatnya Kucing (lelaki yang memberikan servis sex kepada sesama jenis).

Betapa tidak, sekarang aku sering mempersiapkan diri agar pasangan homosexualku merasa puas. Aku sendiri tidak tahu apakah aku mengharapkan uang ataukah aku ingin membahagiakan laki-laki yang menjadi pasanganku. Ataukah mungkin aku berharap agar cowok-cowok yang ganteng(terutama aktor laga)mau sering-sering berhubungan sex dengan aku.

Sebagai contoh, sekarang aku makin rajin menjaga penampilanku, baik wajah maupun tubuh. Untunglah aku tidak punya masalah dengan kulit mukaku atau jerawat. Sedangkan untuk body, sejak umur 16 tahun aku sudah rajin latihan beban dan jogging.Sekarang aku sudah jadi anggota fitness center. Sehingga pertumbuhan ototku makin serasi.Kebetulan pelatih fitnessku seorang pelatih profesional.

Karena tubuhku ramping,maka keindahan ototku baru bisa dinikmati jika aku memakai kaos ketat atau buka baju. Tidak heran, jika banyak cowok yang main sex denganku berdecak kagum dan memuji otot-ototku di tempat tidur pada saat kami mulai buka-bukaan baju. Karena mereka tidak menyangka bahwa bagian badanku yang tertutup pakaian begitu ketat dan nikmatt untuk dipandang dan "dipakai".

Dalam hatiku juga muncul pertanyaan apakah aku berlatih keras dan teratur demi kesehatanku atau demi kepuasan sexual. Umumnya laki-laki homosex membentuk ototnya seindah dan seketat mungkin untuk dinikmati sendiri waktu onani atau untuk memikat sesama jenis. Padahal, bagiku, latihan angkat beban bagaikan sesuatu yang wajib seperti halnya kewajiban minum air 12 gelas sehari demi kesehatan. Begitu juga jogging, sit up, push up, pull up dan latihan tinju dengan sand-sack.

Bahkan, jika di masa yang lalu, di dalam tas yang kubawa ke kantor hanya diisi baju ganti dan alat mandi. Sekarang sudah aku lengkapi dengan kondom, vaselin (sebagai lubricant atau pelumas untuk melicinkan kulit kontol sebelum dihajarkan ke lobang pantat), enema (obat untuk mengosongkan kantong pelepasan atau rectum dari kotoran agar jika lobang pantat disodomi, usus sudah bersih dari kotoran),bedak badan(medicated body powder), deodoran untuk ketiak partner sex-ku, pinset dan gunting kecil untuk mencabuti rambut ketiak dan merapikan jembut cowok partnerku, serta parfum.

Baju ganti yang kubawa juga kupilih sedemikian rupa sehingga masih pantas aku pakai jika aku dibawa cowok ke hotel berbintang untuk dipakai sebagai pelampiasan nafsu homosexnya.

Enema aku pakai kalau aku sempat di-book beberapa jam sebelum main. Sedangkan kondom untuk jaga-jaga seandainya pasangan sexku bersedia memakai kondom. Aku sendiri sebetulnya tidak suka disodomi atau menyodomi tapi kalau partner meminta, apa lagi memaksa, apa daya....?

Sejauh ini,hanya seorang aktor yang kusebut saja Si Rupawan, yang mau pakai kondom. Itu pun waktu dia akan ngembat lobang pantatku. Sedangkan waktu kontolnya minta disedot dengan mulutku, kontolnya yang sebesar kontol kuda Australia (dan belum lama ini disunat) loss saja masuk rongga mulutku(dan terasa nikmatt)

Karena aku seorang Satpam, tentu saja jenis tas-ku bukan Samsonite atau sebangsanya,tapi tas yang sederhana berwarna hitam atau biru tua agar tetap serasi dengan baju seragam Satpamku yang berwarna putih biru itu. Sebagian Satpam temanku membawa ransel, tapi aku tidak suka ransel.

Aku juga tak bisa menduga apa yang dirasakan oleh Pembaca yang budiman, saat membaca kisah cabulku ini. Apakah benci, sebel, sayang, iba, kasihan, tak perduli, kepada seorang Satpam homosex macam aku ini. Ataukah malahan ingin mencicipi tubuhku yang ketat dan nikmatt?

Penggunaan enema aku pelajari dari Irvan (seorang kontributor MOTN yang memakai nama "ITB Guy" dengan alamat e-mail girvan@eudoramail.com). Aku kenal Irvan melalui MOTN. Kami kontak lewat e-mail dan konfirmasi tentang jatidiri kami demi keamanan lalu saling kirim pic (foto) lewat e-mail. Terus kami kontak per telepon. Akhirnya kami kencan di Hotel Cedi, Bandung. Sebelum kencan, Irvan dan aku menyepakati dulu apa "do's and don'ts" kami.

Irvan minta agar lobang pantatku dibersihkan dulu dari kotoran dengan enema. Dia akan melakukan sodomi dan kalau aku tidak mau, dia akan memaksa aku dengan kekerasan [Nikmat, bukan?]. Aku minta agar dia mencabuti rambut ketiak memakai parfum Hugo Boss dan deodoran Etienne Aigner. Aku juga menuntut agar jika dia tidak sunat maka kulupnya harus ditarik arah ke belakang kontolnya lalu di fixasi dengan plester. Sehingga bentuknya persis kontol yang sudah sunat. Untunglah Irvan-ku yang ternyata ganteng dan amat macho itu sudah sunat!

Irvanlah yang mengajari aku melalui telepon bagaimana memilih dan menggunakan enema. Aku suka sekali dengan Irvan. Karena kalau hubungan sex dia bisa amat sadis dan sangat kejam.Dia main borgol, main rantai, main hajar dengan cemeti dan main paksa dengan kekerasan.Aku puass sekali. Sayangnya seperti semua laki-laki homosex, Irvan hanya mau kontak fisik dan main sex sekali saja dengan setiap cowok ["untuk pertama dan terakhir kali"].

Padahal kalau aku teringat hubungan sexku dengan Irvan di Hotel Cedi, aku langsung jadi ngaceng berat sampai keluar cairan mazi (pre-cum), saking nikmatnya! Di Hotel Cedi kami menginap dua hari dua malam. Pada saat hubungan sex terakhir, dia merangsangku habis-habisan dan ketika aku akan hampir orgasme, tiba-tiba dia pamit sebentar dan lenyap entah kemana. Karena dia hilang tak tentu rimbanya maka aku terpaksa menyelesaikan puncak syahwatku dengan ngeloco sepuas-sepuasku sampai keluar pejuh :..CRROTT ..CRROTT..CRROTT!. Aku mencoba menelepon melalui HP-nya, tapi sampai kapan pun tidak pernah bisa dikontak.

Belakangan aku tahu melalui surat dari Irvan (tanpa alamat yang jelas), bahwa dia sengaja memberi kenangan manis padaku dengan melakukan siksaan sexual kejam. Merangsang partner sexual dengan kenikmatan luar biasa, tapi tanpa diberi kesempatan orgasme (cum denial).

Siksaan ini biasa dilakukan dalam hubungan s/M. Dimana Master sengaja menyiksa slavenya dengan merangsangnya sampai hampir orgasme, tapi selalu dicegah untuk orgasme.Akibatnya, pikiran si slave terpaku kepada sex saja karena terus-menerus berpikir bagaimana bisa mendapatkan orgasme dan bagaimana bisa mengeluarkan pejuhnya.

Biasanya tangan slave diborgol dengan handcuff (borgol tangan) dan kontolnya diborgol dengan cockcuff (borgol kontol). Jadi si slave betul-betul harus mendapatkan belas kasihan dari Master kalau mau memancarkan pejuhnya. Kecuali melalui mimpi basah. Sadiss dan nikmatt mendengarnya!!

Menurut Lino (Marcellino Thomas Dj),"cum denial" sering dilakukan oleh pacarnya Jo (Jonathan) yang kebetulan seorang Black American (dahulu: Negro) terhadap Lino. Kebetulan pola hubungan mereka s/M. Dimana Lino jadi slave dan Jo jadi Master.

Bahkan Jo lebih kurang ajar lagi dengan memaksa Lino harus menenggak Viagra, lalu merangsangnya habis-habisan. Kemudian memborgol tangan dan kontol Lino. Tentu saja Lino blingsatan seperti kuda jantan kasmaran pada kuda betina. Pada hari kedua, setelah Lino memohon-mohon seperti anjing, barulah Jo mau melepas borgol-tangan dan borgol- kontol Lino. Sehingga Lino bisa bebas mengocok kontolnya dengan tangannya sendiri, sampai pejuh Lino muncrat berceceran, lemesss tapi merasa lega (relieve) dari beban dorongan sexual yang membara selama dua hari dua malam. Gila! Tapi asyik bukan?

Sekarang di San Francisco, Lino juga sedang blingsatan. Bukan karena cum denial, tapi karena semua Warga Negara Indonesia yang ada di Amerika Serikat harus melapor ke Kantor Imigrasi Amerika (National Immigration Services - NIS). Kalau tidak,akan dituduh sebagai teroris.Dasar USA babi!

Pembaca MOTN yang budiman, selama beberapa tahun aku bekerja di kantor production house, aku bisa melihat pasang-surutnya karir dari para selebritis Akhirnya, aku berkesimpulan bahwa Sang Pencipta telah membagikan karunia-Nya secara adil. Yang penting kita bisa mensyukurinya. Sekarang aku hanya jadi Satpam dengan penghasilan tambahan menjadi pelacur lelaki alias Kucing. Mungkin esok nasibku lebih baik.Pembaca MOTN Tersayang, tolong doakan aku ya!. Sebagai penutup, aku buat sebuah puisi pujaan buat cowokku tercinta - Irgi Achmad Fahrezi :

The Unachieved Hope or "Harapan Sia-Sia"

Irgi Achmad Fahrezi, aku seorang Satpam, pemujamu. Aku lelaki, homosex dan pelacur. Saat krisis ini, semua begitu buruk, seperti tak ada pilihan bagiku, kecuali mencari tambahan uang, dengan melacur. Langgananku adalah rekanmu, sejawatmu, mungkin sahabatmu. Aku ingin lepas dari kecabulan ini, tapi tak pernah lepas, bagai krisis di negara kita. Masih adakah harapan? Kukira ada, meskipun hanya harapan sis-sia! Engkau diciptakan begitu indah, rupawan, menawan, dan bukan, penikmat sesama jenis. Aku kagum, bangga dan cinta padamu, Irgi Achmad Fahrezi. Engkaulah pemberi semangat hidupku!

Salam manis untuk segenap Pembaca dan Pecinta MOTN Erotic Stories, situs tercabul di dunia!. Salam sayang buat Irgi Achmad Fahrezi pujaanku.


Ajakan membantu pekerjaan Pak Kolonel

By Negus Johan Pahlawan

submitted January 13, 2003
Translate from:
To
Text Size:

Ada seorang tamu yang hampir secara rutin datang di kantorku. Biasanya dia datang menjelang tutup kantor atau pada hari Jum'at sore.Aku perhatikan rata-rata dia datang di kantorku dua sampai tiga kali seminggu.

Kami para Satpam hafal tamu-tamu Bos Besar.Karena semua tamu, tak terkecuali, diminta untuk mengisi buku tamu. Di buku tamu dia menuliskan namanya : Subagyo. Kami Anggota Satpam dan karyawan lain menyebutnya Pak Bagyo.Pak Bagyo tampak awet muda, padahal menurut Carolina (Ool), sekretarisnya Bos Besar, Pak Bagyo sudah berumur sekitar 40 tahun. Carolina bisa tahu umur Pak Bagyo karena pernah disuruh Bos Besar memfotokopi KTP Pak Bagyo.

Aku sendiri tidak tahu apa hubungan Pak Bagyo dengan Bos Besar, apakah hubungan bisnis ataukah teman lama atau teman sekolah. Aku tahu bahwa Pak Bagyo seorang perwira berpangkat kolonel juga belum lama ini[ Tak perlu kukatakan disini apakah dia seorang anggota polisi atau tentara,atau dari angkatan mana. Rasanya tidak etis ].

Sebetulnya Pak Bagyo bukan satu-satunya tamu yang sering bertemu dengan Bos Besar. Tapi dari sekian banyak tamu rutin yang sering ketemu Bos Besar, Pak Bagyo yang mendapat perhatian khusus dariku. Tentu Pembaca yang budiman sudah bisa menebak apa alasannya, tentu saja tidak lain dan tidak bukan karena : kegantengan Pak Bagyo!.

Sebagai seorang cowok homosex, tentu saja mataku ijo kalau lihat lelaki cakep atau cowok ganteng. Sayang sekali aku tidak bisa memuat foto(pic) Pak Bagyo dalam MOTN (sebutan untuk foto dalam situs cabul adalah "pic"). Tetapi kira-kira tubuh Pak Bagyo seukuran dengan body Dony Kesuma atau badan Ferry Irawan. Pak Bagyo berbadan tinggi ramping. Sedangkan wajahnya kira-kira kombinasi tampang Marcel (Marcellino) dan Ferry Irawan. Jadi memang Pak Bagyo "keren abis" (ganteng sekali). Sebelum orang di kantorku tahu bahwa Pak Bagyo seorang Kolonel, ada yang mengira Pak Bagyo lagi casting untuk suatu sinetron yang akan diproduksi.

Berbeda dengan tamu-tamu lain, yang tidak pernah mengacuhkan kami para Satpam, Pak Bagyo ramah dan sering menyapa kami atau mengajak ngobrol. Kalau aku kebetulan jaga dan Pak Bagyo bertamu, apalagi sampai mengajak ngobrol aku, aku sangat menikmati kegantengannya. Diam-diam aku mencuri pandang lengannya yang ketat atletis dengan kulit yang mulus. Tanpa terasa kontolku ngaceng, bahkan aku kadang-kadang sampai keluar mazi(pre-cum)! Gila!

Aku hanya sempat sekali melihat Pak Bagyo datang ke kantorku mengenakan seragam Kolonel. Pembaca mungkin bisa membayangkan betapa gagah-menawannya seorang berbadan seperti Dony Kesuma dengan wajah seperti Marcellino berseragam Kolonel. Belum pernah aku kesengsem dan kepincut lelaki seperti hari itu. Tanpa malu-malu kepada Pembaca MOTN, terus terang saja sepulangnya dari kantor, tiba dirumah, aku terpaksa ngeloco sambil membayangkan kegantengan Pak Bagyo. [Aku juga mau terus terang kepada Pembaca MOTN bahwa kadang-kadang aku juga terpaksa coli kalau sudah rindu banget sama Irgi Achmad Fahrezi, bintang pujaanku. Contohnya waktu aku barusan nonton FTV : "Wajah Kekasih", dimana Irgi bermain sebagai Johan, mahasiswa yang baru pulang dari Malaysia. Maaf ya Irgi! Atas segala kelancangan dan kekurang-ajaranku. Mohon maklum, bahwa yang ada di otak cowok homo itu hanya sex dan sex saja. Nggak ada hal lain yang dipikirin]. Aku teruskan ceritaku, ya :

Aku pernah coba mencari tahu pada Carolina, apa urusan Pak Bagyo dengan Bos Besar. Tapi Carolina juga tidak tahu. Karena Bos Besar tidak pernah cerita, dan tidak ada surat atau berkas tentang Pak Bagyo yang pernah lewat meja Carolina. Tapi menurut Carolina,Pak Bagyo punya isteri dan punya anak dua orang. Satu laki-laki dan satu perempuan. Rupanya, diam-diam Carolina juga naksir Pak Bagyo.

Aku pernah membicarakan tentang Pak Bagyo dengan Rizal(Jose Rizal) Komandan Satpam Perusahaan-ku. Rizal juga sependapat denganku bahwa Pak Bagyo memang ganteng. Kebetulan Rizal juga seorang homosex, malahan Rizal boleh dibilang pacarku. Setiap akhir minggu aku menginap di rumah Rizal dan tidur dengan Rizal alias melakukan hubungan homosex.

Rizal juga menceritakan bahwa dia pernah diminta untuk mengantarkan Pak Bagyo ke Bogor, tapi tidak bermalam. Rizal tidak menceritakan lebih detail tentang kejadian itu, aku juga tidak tanya Rizal lebih jauh. Meskipun hubunganku dengan Rizal seperti pacar, anehnya kami berdua tidak pernah cemburu jika salah satu di antara kami terlibat affair dengan cowok lain. Mungkin memang begitu pola hubungan cinta dua pria homosex. Tidak ada sense of belonging!

Pada suatu hari Jum'at, Pak Bagyo datang lagi ke kantorku. Kebetulan Bos Besar sedang keluar. Oleh karena itu Pak Bagyo menunggu di ruang depan. Dia mengajakku ngobrol dan juga minta tolong.

Katanya dia sore itu perlu supir karena dia mau pergi ke Cipanas.Pak Bagyo juga mengatakan bahwa dia segan untuk membawa mobil ke luar kota. Dia tanya apakah aku bisa menolong dia. Kebetulan aku tidak ada acara. Hari Sabtu Minggu itu aku tidak piket. Sebagai Satpam, aku selalu siap baju ganti dan perlengkapan mandi.Karena itu waktu Pak Bagyo minta agar aku langsung berangkat dari kantor aku tidak keberatan. Anehnya, begitu aku setuju, Pak Bagyo langsung menelepon Bos Besar mengabarkan bahwa dia batal bertemu Bos Besar karena akan pergi ke Cipanas.

Demikianlah, kami berangkat ke Cipanas. Hari baru pukul 14:00. Mudah-mudahan di jalan tidak macet, pikirku. Aku yang menyetir mobil Pak Bagyo yaitu sebuah Mercy 190 E warna cokelat. Pak Bagyo duduk di sampingku di depan. Jantungku berdebar-debar, terpengaruh aura kegantengan wajahnya dan keindahan tubuhnya. Tercium olehku wangi parfum Hugo Boss dari baju dan tubuh Pak Bagyo [ Rupanya cowok-cowok ganteng seperti Pak Bagyo dan Irgi Achmad Fahrezi menyukai parfum Hugo Boss ].

Di jalan tidak ada yang istimewa. Kami singgah untuk istirahat dan minum di suatu restoran di perjalanan. Rupanya Pak Bagyo bukan hanya indah dipandang, tetapi juga enak diajak ngobrol. Dia bisa diajak ngobrol topik apa saja. Aku berpikir jangan-jangan Pak Bagyo seorang intel yang sedang menyelidiki jaringan Narkoba, atau ...homosex?

Sesampainya di suatu tempat di Cipanas, Pak Bagyo menyuruh aku belok ke kiri dan setelah melewati jalan naik turun sekitar tiga kilometer. Kami sampai di sebuah villa. Villa itu diurus oelh seseorang yang tinggal di desa sekitar situ.

Ketika kami tiba, laki-laki penjaga villa itu mempersiapkan segala sesuatu yang perlu, minuman dan snack, lalu pamit. "Nanti sore dia kembali lagi untuk menyiapkan makan malam", kata Pak Bagyo, seakan bisa membaca pikiranku.

"Kita nginep di sini, ya?" katanya mesra. Aku merasa sikap Kolonel yang satu ini aneh, seakan makin lama dia makin ramah dan makin mesra. "Saya tiap sore jogging", katanya, "Johan mau ikut?", tanyanya lagi."Iya, Pak, mau" jawabku. Kebetulan aku juga siap dengan sepatu olahraga dan pakaian tidur (kaos dan celana training-spak). Pikirku, aku bisa jogging dengan seragam tidurku. Anehnya dia tidak menyebut aku "kamu" seperti biasanya, tapi "Johan" (namaku Johan Pahlawan).

"Kita tidur sekamar, ya?", katanya lagi "Alamak", pikirku,"Apa pula ini?". kataku dalam hati."Sepi kalau tidur sendirian" tambahnya. Pak Bagyo masuk kekamar dan keluar sudah berpakaian jogging. Baju kaos putih bersih dan celana trainings-pak. Size baju kaos dan celananya sedemikian rupa sehingga tonjolan otot tubuh atasnya begitu sensual. Aku ngaceng berat melihat Pak Bagyo seperti itu.

Untunglah celana dalamku tebal-ketat, sehingga kontolku yang nagceng tidak membentuk tonjolan tenda di bagian depan celanaku. Kami berdua jogging bersebelahan.Aku yakin Pak Bagyo mengatur kecepatannya, agar aku tidak keteteran. Kami jogging sekitar lima kilometer. Sebetulnya tidak jauh, tetapi karena jalan naik-turun, terasa agak berat. Untunglah aku bisa bertahan sampai kembali lagi ke villa. Setiba di villa, kami melakukan senam pendinginan di halaman. Pak Bagyo melepas kaosnya, telanjang dada. Aku seakan mau pingsan melihat tubuh atasnya yang atletis,berotot dan berkilat oleh keringat - SANGAT MERANGSANG!!!

Gilanya, tanpa ragu-ragu dia membantu melepaskan kaosku, seperti seorang ayah membantu anaknya. Aku merasa gemetar dan amat terangsang secara sexual.

Kami berdua sudah bertelanjang dada. Bersebelahan dengan Pak Bagyo aku melakukan senam pendinginan. Jantungku terasa sesak, bukan karena jogging tapi karena rangsangan yang tak tertahan lagi melihat pemandangan indah tubuh dan wajah Pak Subagyo. Setelah senam selesai. Pak Bagyo merangkulkan lengannya yang kekar ke tubuhku dan membimbing aku masuk kamar.Aku merasa seperti melayang dan terhipnotis oleh sikapnya.Entah apa yang terjadi, di kamar tidur kami bukannya ganti baju malahan berpelukan dan bercipokan lebih jauh.

Aku berubah jadi seperti anjing(!), tanpa komando langsung saja aku menjilati tubuh Pak Bagyo yang masih basah, lengket, dan asin oleh keringat hasil jogging. Aku perbuat seperti yang biasa aku lakukan kepada Rizal. Pak Bagyo menelentang di tempat tidur yang muat dua orang itu. Lengannya diangkat ke atas, sehingga aku bisa menikmati ketiak rambut ringannya. Semua aku jilati aku sedot, aku nikmati puas-puas. Puting susunya juga tidak ketinggalan aku sedot, pijit, pelintir. Dia melenguh seperti sapi - amat sangat kenikmatan.

Tanpa takut dan ragu, Pak Kolonel aku telanjangi sampai bugil, telanjang bulat. Kontol perwiranya yang gagah, besar, tegak, ketat berkilat aku sedot-sedot sampai berbunyi.Jembutnya yang lebat aku jamah sepuas-puasku. Jembut lelaki adalah bagian favoritku, jika sedang bersetubuh dengan sesama jenis. Pinggulnya aku jepit dengan kedua lenganku yang kekar agar dia merasa ketat, nikmat dan tambah terangsang. Lobang pantatnya aku kobok untuk memijit kelenjar prostatnya, agar pejuhnya makin terasa mendesak ingin keluar. Akhirnya, Si Kolonel Ganteng memberi tanda akan memuncratkan pejuhnya.Kulepas kontolnya dari mulutku agar aku bisa melihat dengan mata kepala sendiri pancaran pejuhnya. Aku beruntung bisa melihat pancaran pejuhnya yang putih kental menyemprot ke udara berceceran di perut dan dadanya yang berotot ketat itu!.

Melihat "keindahan kontol surgawi" itu aku amat sangat terangsang sehingga aku terpaksa menggesek-gesekkan kontolku ke seprei yang agak kesat itu sambil memeluk pahanya yang kekar dan ditumbuhi rambut halus dan sambil sibuk memijit-mijit puting susuku sendiri.Ahh, nikmat ledzat bersatu padu terasa naik sampai ke ubun-ubunku!!!

Setelah aku merasa puas menggesekkan-gesekkan kontol, pejuhku aku semburkan sepuas-puasku dan mengotori serta menceceri seprei. Nikmat sekali!.

Setelah makan malam, dia mengajak aku tidur. Tapi bukannya tidur, malah di tempat tidur aku dihajar oleh Kolonel Subagyo dengan ikat pinggangnya.

Rupanya nafsu sadisnya dilampiaskan kepadaku. Aku merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan pasangan yang sadis. Setelah tubuhku lebam, biru dan penuh lecet, barulah dia mengembat lobang pantatku dengan kontol Kolonelnya yang perkasa! . Sakiit dan nikmatt bersatu padu belaka di lobang pantatku yang menjalar ke kelenjar prostatku dan kembali merangsang kontolku sampai ngaceng lagi.

Untuk mengurangi pedih-peri yang diakibatkan oleh siksaannya yang sadis dan militeristik itu dia menutup acara penyiksaan dan pemerkosaan padaku dengan mengocok kontolku terus sampai terpancar tetes muncratan pejuhku yang terakhir!

Alangkah cabulnya perbuatan kami hari itu, persis seperti yang dilakukan manusia-manusia Sodom and Gomorah. Dari nama kota Sodom, muncullah istilah SODOMI.


Apakah aku akan berprofesi jadi Kucing?

By Negus Johan Pahlawan

submitted January 12, 2003
Translate from:
To
Text Size:

Waktu terjadi heboh konser grup musik asing dari suatu tempat di benua kita, tak aku sangka bahwa heboh yang disebut terakhir ini akan punya kaitan dengan diriku.

Setelah misteri Si Peragawan Tommy yang mengaku ngebet dengan aku. Dua hari kemudian aku dapat telepon lagi.Di seberang sana seorang pria dengan nada ramah mengundang aku ke suatu restoran, "Ada yang mau saya bicarakan", katanya. Meskipun tidak kenal, aku layani pembicaraan telepon itu dengan ramah dan sopan.

Satpam di perusahaan kami punya kode etik untuk selalu ramah dan sopan kepada siapa saja, meski harus tetap bisa tegas jika terpaksa bertindak. Hal ini perlu, karena sebagai pengelola suatu production house. Perusahaan kami banyak punya urusan dengan para selebriti yang sudah biasa diperlakukan oleh masyarakat sebagai VIP. Jika salah memperlakukan mereka bisa runyam.

[Kecuali, Irgi Achmad Fahrezi yang walaupun sudah ngetop tapi tetap ramah kepada siapa saja. Waktu chatting melalui Citra Online, dia juga tetap bersikap ramah dan tidak banyak tingkah. Sikap Irgi seperti itulah yang bikin aku jadi tambah tergila-gila pada cowokku yang satu itu! (Irgi, jangan-jangan kamu seorang malaikat yang berwujud bintang sinetron!). Irgi, jangan marah ya kalau seorang Satpam homo seperti aku ini tergila-gila kepadamu! Tapi kalau kamu marah, aku juga siap kok dibunuh dan dicincang oleh kamu. Aku juga siap kalau kamu berselera mencincang aku dulu,baru aku dibunuh. Itu akan menjadi bukti penyerahan diri dan cintaku padamu!].

Aku teruskan ceritaku, ya :

Sebagai seorang yang bekerja di bidang security (meskipun aku cuma Satpam), selalu saja aku harus waspada dan setengah curiga kalau ada orang yang tidak kukenal ingin ketemu. Apalagi aku (pribadi dan dinas) banyak berurusan dengan para selebriti yang banyak punya urusan dengan media masa dan jangan-jangan juga punya urusan dengan preman (dan Nar...?).

Kepada si penelepon, aku jawab, agar dia datang saja ke kantorku kalau memang ada urusan. [Dalam hati aku berpikir, "Kalau dia mau ngajak duel aku sampai mati seperti gladiator juga aku siap. Mau tangan kosong? OK. Mau pakai apa? pisau?, golok?, belati?, badik?, rencong?, mandau? pistol? Ayo!. Semua akan aku layani!. Aku ini cowok homo, jadi nggak merasa perlu hidup lama-lama di dunia!!!"].

Aku teruskan lagi ceritaku :

Si penelepon setuju. Dan karena aku merasa hanya seorang Satpam, maka aku minta agar dia ketemu aku di bawah pohon yang ada di pinggir jalan di dekat kantorku. Kami janjian hari itu jam 14:00, yaitu jam aku baru gantian jaga dengan teman lain.

Jam 14:00, setelah pamitan dengan Rizal, Komandan Satpam yang juga merangkap cowokku, kekasihku, pacarku, aku datang ke tempat janjian. Seorang cowok ganteng 20 tahunan berdasi menunggu di samping sebuah mobil Mercy baru (entah keluaran tahun berapa). Dia memperkenalkan diri seperti namanya yang disebut di telepon dan dia bersikap seperti sudah kenal lama dengan aku. Dia mengaku dari sebuah perusahaan promotor pertunjukan dan ada perlu dengan aku.Dia serahkan kartu namanya, aku baca "Rudy". Sama dengan pengakuannya di telepon. Mungkin saja nama samaran, masak nama cuma Rudy doang, pikirku.

Supaya bisa bicara dengan enak, dia mengajak aku duduk dalam mobilnya. Aku lihat dia sendirian dan lagipula dia tampangnya cakep dan bodynya bagus atletis. Sehingga aku nggak bisa menolak. Apalagi tercium bau wangi parfum Hugo Boss dari badannya yang atletis itu. Hugo Boss adalah parfum yang menjadi favoritnya Irgi - bintang cowok pujaanku.

Di dalam mobil dia mula-mula menyampaikan salam dari Tommy (Si Peragawan yang pernah ngehomo sama aku). Dari situ, aku sudah bisa mencium arah dari pembicaraannya kemana. Setelah minta maaf, dengan halus, sopan dan amat hati-hati dia tanya apakah aku mau bertindak sebagai entertainer (ini adalah istilah keren untuk Cabo, alias Pelacur, alias Penjaja Sex, alias Kucing). Bangsat, pikirku!

Tapi aku cepat berpikir dan mengambil sikap.Meski sedikit tersinggung, tapi wajahnya yang cakep dan bibirnya yang sensual dengan jejas kumisnya yang tercukur bersih dan halus rapi bikin aku tidak berkutik dan tidak mampu marah!Aku bilang, apakah aku boleh berpikir dulu, sekitar satu dua jam?.

Dia setuju dan akan menghubungi aku di HP-ku satu jam kemudian.Sebelum berpisah dia sempat mengelus lenganku yang kekar dengan halus dan hati-hati, lalu meremas tanganku dengan tangannya yang putih tapi tampak kekar dan kelaki-lakian,sehingga aku seakan jadi dibikin mati suri!Gila! Mana tahaan!

Terpaksa aku tetap di kantor. Melihat aku, Rizal tanya "Kok, nggak jadi pulang?", aku jawab; "Iya, sebentar lagi". Walaupun Rizal sering bersikap seperti tidak "care" kepadaku,tapi dari pandangan matanya yang tajam dan perkasa itu aku merasa bahwa Rizal seperti punya feeling bahwa aku punya suatu rencana rahasia. Sebetulnya, ada aura atau kekuatan magic yang dipunyai Rizal yang membikin aku jadi lengket banget seperti perangko pada Sang Komandan Satpam yang juga cowok homosex tapi tampangnya cakep persis seperti Bang Abdul Rasyid penyiar berita Metro TV (Sekali lagi sorry ya Bang Abdul, nama Abang dibawa-bawa ke MOTN ini. Tapi Abang cuma mirip 'kok. Nggak terlibat dalam kisah ini!).

Satu jam kemudian Rudy menelepon lagi dan aku bilang aku mau tahu lebih detail tentang tawaran-nya. Dia mengajak aku ke restoran. Aku setuju. Gila juga! Ternyata aku dibawa ke Kafe tempat aku makan pertama kali dengan Tommy Si Peragawan sebelum diajak nge-homo di Hotel "B".

Di Kafe itu aku baru tahu bahwa ternyata namaku sudah masuk daftar "pemasaran" mereka. Rupanya, Tommy Sang Peragawan itu pencari Kucing baru dan jadi tukang mencicipi calon Kucing. Sialan!Pantes dia nggak pernah hubungi aku lagi. Bangsat! Dasar pengusaha bordil homo! Anehnya, semua kekurang-ajaran mereka tidak bikin aku marah. Sepertinya mereka sudah menguasai psikologi kaum homosexual. Atau aku di hipnotis oleh si ganteng Rudy itu dan tidak bisa marah?. Gilanya lagi! Tanpa ragu Rudy mengaku bahwa waktu aku main dengan Tommy, mereka merekam kegiatan homosexual kami dengan movie camera tersembunyi.Setan!. Tapi aku masih heran, sama sekali aku tidak ingin marah, apalagi mau mengamuk atau mengajak duel Rudy. Padahal kalau harga diriku diganggu orang, biasanya orang itu aku tantang duel dan pasti aku akan layani sampai titik darah yang penghabisan. Sialan!Benar-benar, sindikat bordil homo ini kenal baik psikologi cowok homosex! Ataukah Rudy mungkin punya kekuatan magic! Anjing!

Ketika aku tanya pada Rudy kenapa justru aku yang dihubungi. Dia mengatakan bahwa aku termasuk yang dipilih oleh si konsumen ("client") setelah dia memeriksa beberapa rekaman pasangan cowok homosex yang lagi pada ngebol! Bangsat! Aku termasuk yang dipilih. Aku bilang kenapa bukan Tommy yang lebih ganteng yang dipilih?. Kata Rudy yang dicari si client bukan tampang tapi body dan kontol. Babi!

Sedangkan statusku dalam "deal" ini nanti adalah stand-by saja, belum tentu dipilih untuk dipakai. Tapi aku tetap akan dapat "fee" juga, yaitu 50%.

Karena sudah kepalang basah,aku tanya lebih detail tentang "job" yang mereka tawarkan. Ternyata aku dapat tawaran "melayani" salah seorang anggota dari grup musik asing yang lagi heboh saat itu. Tapi hanya melayani satu orang saja. Aku tanya detailsekali servis apa yang diminta. Tanpa malu-malu aku bersikap seperti Kucing Profesional dan tanya mengenai segala hal, termasuk apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan (do-s and don't-s). Aku juga tanya kesepakatan mengenai penggunaan kondom untuk mencegah HIV/ AIDS.

Selaku pihak penghubung Rudy akan mengurus proses pemeriksaan darah dilaboratorium [Padahal menurut Dr. Rizki teman dekat Rizal, hasil pemeriksaan darah yang negatif bukan jaminan bersih AIDS. Karena ada periode jendela atau "window period". Dimana seseorang yang sudah tertular HIV dan sudah bisa menularkan kepada orang lain, tetapi jika darah orang itu diperiksa masih negatif ]. Jadi omomg kosong saja periksa-periksa darah! Goblok!

Rudy mengatakan bahwa kedua-belah pihak juga harus sepakat dan berjanji tidak akan melakukan cara-cara sex sado-masochist atau sex dengan kekerasan dan penyiksaan.

Mengenai kondom, terserah kepada yang dilayani. Tapi Kucing boleh bargaining - menawarkan atau menganjurkan agar client mau pakai kondom. Kalau client menolak pakai kondom tetap harus dilayani. Mengenai jumlah "fee" (istilah keren untuk uang pasang badan atau upah Kucing) diputuskan bersama dalam "deal". Tidak etis kalau aku sebut di forum MOTN Erotic Stories ini. Yang pasti di atas US $ 1000,- semalam. Uang sebesar itu sudah termasuk uang tutup mulut!.

Aku mengatakan bahwa aku hanya mau melayani cowok yang sunat. Aku tidak mau melayani cowok yang kulup alias un-cut. Rudy mengatakan bahwa tidak usah khawatir, client-nya sunat karena lahir di negara yang semua bayi-nya disunat.

Aku masih ragu untuk menagmbil keputusan, dan aku minta waktu lagi sekitar setengah jam untuk berpikir lagi.Rudy mengatakan dengan ramah bahwa deal ini sukarela, jadi kalau aku tidak bersedia, aku boleh menolak. Aku minta waktu untuk merenung sendirian. Rudy pergi sebentar ke luar, dia pura-pura merokok. Dari gayanya, aku tahu dia tidak biasa merokok!

Karena bimbang dan ragu, tanpa sengaja aku menarik dompetku dari saku celana dan waktu dompet aku buka tampak olehku potret Irgi - pujaanku yang kupasang di disebelah foto Rizal cowokku. Tiba- saja aku sadar bahwa aku bukan seorang Pelacur, bukan Gigolo dan bukan Kucing. Aku seperti diberi peringatan keras oleh senyum Irgi yang nakal dan jahil itu bahwa "uang lendir" dari hasil melacur yang lebih seribu dolar itu hanya akan membawa sial dan celaka!.

Selama ini aku memang pernah melakukan hubungan homosex dengan beberapa cowok selebritis tapi aku tak pernah menjual diri. Selalu mereka yang mulai duluan!

Aku tidak biasa dan tidak pernah menangis. Tapi aku heran, pada saat aku melihat foto Rizal aku merasa sedih sekali dan aku merasa berkhianat pada orang yang selalu aku bilang aku cintai. Aku menangis bercucuran air mata. Untung Kafe sedang sepi dan tidak ada pelayan di sekitar situ. Aku malu sekali pada diriku sendiri, aku cowok kekar dan pemegang sabuk hitam karate, menangis macam cewek! Banci!

Dalam keadaan galau dan menangis itu, tiba-tiba saja aku merasa pelukan sayang di bahuku. Rudy memeluk aku dan berbisik manis sekali "Sudah Mas, kalau nggak mau, nggak apa-apa". Rudy seperti bisa membaca perasaanku. Aku merasa bersalah karena dalam hatiku aku menganggap Rudy sebagai orang jahat dan calo Kucing alias calo homosex. Padahal Rudy orang baik, mungkin juga dia kerja seperti itu hanya karena terpaksa!

Rudy berbisik halus dan ramah "Kita pulang, ya Mas". Aku bangkit dari kursi dan dia merangkulku berjalan ke mobil. Aku jadi merasa seperti bukan laki-laki sejati lagi, menangis dan berjalan dirangkul sesama cowok.

Di dalam mobil, Rudy membiarkan aku menyelesaikan tangisanku. Aku benamkan wajahku di dada Rudy. Bagian depan bajunya yang keren dan berdasi itu basah kuyup oleh air mataku, sampai aku takut nanti air mataku akan meninggalkan noda atau vlek di bajunya. Bau harum parfum Hugo Boss di bajunya membikin aku teringat lagi pada Irgiku sayang - dan aku jadi merasa makin berdosa.

Walaupun masih muda remaja, Rudy sikapnya sangat gallant dan kebapaan, dia terus menenangkan aku dengan pelukan-pelukan sayangnya dan sekali-sekali memberi ciuman halus di bibirku."Ah, Rudy ganteng ini homosex juga dan rupa-rupanya cari kesempatan dalam kesempitan", pikirku. Segera aku meluruskan dudukku. Rudy segera menstarter dan menjalankan mobil. Aku minta diantar Rudy kembali ke kantor.

Sesampainya dekat kantorku, aku minta agar Rudy menghentikan mobilnya agak jauh dari pintu pagar kantor. "Terima kasih, Mas" kata Rudy. Aku hanya melempar senyum saja, kami bersalaman dan lalu berciuman di bibir. Aku merasa nikmat dan bahagia dan terlepas dari beban berat. Aku turun dari mobil, kami saling melambai dan Rudy berlalu dengan mobilnya.

Saat itu sekitar pukul 17:00. Untung aku membawa kacamata hitam. Segera aku pakai untuk menutupi mataku yang merah karena baru saja menangis.

Kantor sudah sepi, hanya ada dua orang Satpam yang sedang jaga. Aku melambaikan tangan kepada kedua Satpam temanku itu dan cepat-cepat menuju ke mobilku untuk berangkat pulang ke rumah.

Nah, Pembaca MOTN Erotic Stories yang budiman. Demikianlah sebagian kisah hidupku yang tak pernah lepas dari bujukan, tawaran, ujian untuk melakukan kecabulan dengan sesama jenis.

Pesanku, janganlah Anda mencampur adukkan kisah dalam MOTN dengan dunia nyata. Tidak selalu ada hubungannya atau kaitannya.

Bagaimanapun, aku harus berterima kasih kepada Irgi Achmad Fahrezi yang telah menyelamatkan aku dan menghindarkan aku terjerumus dalam dunia pelacuran atau dunia per-Kucingan.Karena itu Irgi berhak mendapat hadiah puisi dari aku :

(Mr. Editor, please, this is a POEM):

Irgi Achmad Fahrezi, kemudaan tak menjerumuskanmu ke Narkoba, kemudaan tak mendorongmu berbuat asusila, kemudaan mengantarmu kepada kebijakan, kemudaan mengantarmu dalam sukses bisnis, kemudaan mengantarmu dalam sukses karir, kemudaan mengantarmu menghibur sesama, kemudaan mengantarmu mengabdi Tuhan. Aku bangga padamu, Irgi. Irgi Achmad Fahrezi, terima kasih. Senyum ceriamu telah menyelamatkan aku, dari hanyut dalam arus pelacuran sesama jenis. Sekali lagi, terima kasih, Irgi.

Kepada segenap Pembaca MOTN,terimalah salam sayang dari Johan Pahlawan.


Awal hidupku sebagai budak di Amerika

By Negus Johan Pahlawan

submitted January 2, 2003
Translate from:
To
Text Size:

Selesai SMU aku pindah ke Amerika Serikat untuk masuk College kemudian mengambil MBA di UCLA - University of California in Los Angeles. Selesai kuliah dan setelah meraih MBA aku menetap di San Francisco. Saat itu, cowok pujaanku : Irgi Ahmad Fahrezi lagi kuliah di Sunway College, Malaysia, mengambil jurusan Ilmu Komunikasi.

Waktu di SMU, aku iseng-iseng mengisi formulir lotere imigrasi ke AS dan secara kebetulan pula aku menang. Selain menang lotere, kepindahanku ke Amerika Serikat juga ditunjang oleh orang tuaku yang cukup berada. Kalau tidak, mana mungkin!

Waktu aku di SMU, sinetron Pondok Pak Jon dan Lupus Millenia ditayangkan dan Irgi Ahmad Fahrezi fans beratku baru memulai karirnya.

Sengaja aku memilih Cisco - San Francisco,sebagai tempat tinggal, karena Cisco adalah ibukota-nya homoseks Amerika. Ibukota homoseks dunia adalah Amsterdam. Maklum aku homoseks berat 100% tidak doyan cewek sedikit pun!

Orang-tuaku membelikan aku apartemen di Cisco, yang kira-kira menyerupai ruko = rumah-toko di Indonesia. Aku bisa tinggal di lantai atas dan berusaha di lantai bawah. Aku mencoba usaha dan keberuntunganku dengan membuka Asian Grocery. Sesuatu yang sebetulnya banyak dilakukan orang-orang Asia di Cisco. Tapi agar lebih unik dan lain dari yang lain aku juga menjual majalah, koran, dan sedikit makanan Indonesia. Di samping orang lokal, segmen pasarku adalah masyarakat Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Bahkan aku juga menjual sedikit barang-barang kerajinan Indonesia, termasuk batik. Mungkin hokki-ku lumayan bagus karena sampai aku menulis artikel cabul di situs gay MOTN ini,usahaku masih lumayan maju dan sudah mencapai break even point - bahkan sudah untung.

Untuk membuktikan cinta dan kesetiaanku kepada Irgi Ahmad Fahrezi, aku mendedikasikan satu kamar di apartemenku untuk koleksi Irgi. Ada foto, ada berita, majalah, koran, tabloid dan ada rekaman video dan CD, sinetron dan FTV yang ada Irgi-nya. Pokoknya penuuuuh Irgi. Kalau aku sedang kangen Irgi, aku tiduran di kamar itu sambil menikmati kegantengan wajah Irgi-ku tercinta!

Walaupun aku orang Indonesia asli (yang sudah hampir jadi Warga Negara AS), tapi aku termasuk pengusaha kecil yang rajin, tekun, dan gigih. Sifat-sifat yang biasanya hanya dipunyai orang Cina. Aku juga beruntung tidak (atau belum) berhadapan dengan preman dan bandit Cisco, yang suka memeras atau merampok Orang Asia.

Tentu ada kuncinya, yaitu tak lain karena aku bisa berteman dengan para preman-bandit homoseks sialan di Cisco ini. Persaudaraan di kalangan homoseks di Cisco sangat erat, khususnya dari kelompok "MsT = Master and slave Together". Aku aktivis MsT dan banyak punya teman dan "cs" di kalangan ini. Pacar tetapku adalah Jo=Jonathan, seorang Black American yang berkulit terang, ganteng, berotot dan (pasti!) berkontol besaaar dan disunat rapih-ketat - high and tight!

Walaupun berbadan gede macam petinju dan berlatar belakang Black American (dulu disebut Negro), tetapi Jo orangnya sopan, bersih dan baik hati. Sebetulnya dia berasal dari keluarga terpelajar. Tetapi karena dia homoseks, dia merasa lebih baik berpisah dengan keluarganya tercinta. Jo tinggal di apartemenku dan praktis aku yang menyokong hidupnya. Sudah dua tahun kami hidup bersama dan so far so good.

Mungkin karena dia sering petantang-petenteng di toko-ku, para preman takut juga mau mengganggu usahaku atau memeras aku.

Hubunganku dengan Jo adalah hubungan s/M alias slave and Master atau budak dan Tuan. Walaupun Jo hatinya baik dan berperangai halus, tapi kalau di tempat tidur Jo berubah jadi : kejam, sadis dan beringas. Tidak pernah ada acara hubungan seks antara aku dengan Jo tanpa darah tertumpah dari tubuhku. Sekurang-kurangnya, punggung atau dadaku lecet dihajar Jo dengan cambuk atau ikat pinggang tapi, yach... NIKMAT SEKALI!.

Memang tidak mudah bagi Jo mendapat partner s/M yang seperti aku. Seorang slave (budak) yang amat submissive. Dia juga bisa hidup dari aku dan mendapatkan layanan seks gila-gilaan! Di pihak lain, begitu juga tidak mudah bagiku mendapatkan cowok Master yang begitu nikmat fisiknya dan begitu sadis ulahnya waktu sedang hubungan seks.

Di samping Jo hobby angkat beban, Jo juga gemar martial arts alias bela diri. Dia berkualifikasi Black Belt Karate. Diam-diam aku suka takut jika tiba-tiba Jo kabur dariku. Sebab aku sudah kadung lengket sekali dan bahagia hidup dari : menghirup pejuh, menyedot air kencing, dan menjilati lobang pantat, ketiak dan keringat Jo. GILA!!!

Jo perlu banyak pelampiasan seks. Praktis setiap hari aku "dihajar" dan "diembat" Jo. Sehingga agar aku bisa menimpali nafsu besar homoseksnya yang sadis aku juga harus menjaga diri, fisik, vitalitas dan kesehatanku. Aku harus rajin minum ramuan Pasak Bumi, Tongkat Wasiat Madura, Tongkat Ali, Irex dan campuran telor ayam + madu + merica + kecap. Semua itu aku impor dari Indonesia dan sebagian kujual. Aku juga rajin latihan angkat beban dan dilatih bela diri oleh Jo. Gilanya, kalau sedang latihan bela diri, Jo terkadang bangkit nafsunya, sehingga bukannya latihan karate malahan mulutku dan lobang pantatku alias boolku jadi sasaran embatan kontolnya. Setan!

Senangnya, kalau Jo sudah muncrat pejuhnya, dia tenang. Saat itulah aku mulai bisa menjilati puting susunya, ketiak, lobang pantat, dan yang pasti tentu kontolnya yang aduhai sedapppnya (dan BESSUAAAR) itu!. Dasar Negro!, Jo ternyata mampu memuncratkan pejuhnya berkali-kali dalam sehari.

Kalau Jo lagi tenang, malam hari kami berpelukan di sofa sambil menonton TV. Dengan halus dia menciumi dan mencipoki aku. Nikmat banget!!! Aku nggak tahu apa jadinya kalau ketahuan oleh orang-tuaku aku menyimpan cowok homo di apartemenku.

Jo tahu aku penggemar berat Irgi, tapi dia tidak pernah perduli.Toh Irgi jauh di Tanah Air-ku dan pasti Irgi tidak doyan cowok. Jadi Irgi tak mungkin jadi saingan Jo.Mereka tidak comparable!

Kalau Sabtu-Minggu, toko-ku tutup. Jadi Jo bisa leluasa "memperbudak" aku. Biasanya aku disekap Jo dalam lemari tembok dalam keadaan telanjang bulat dan dirantai tangan kaki. Seringkali aku tidak diberi makan minum dan dipaksa hidup dari menelan pejuh, air kecing dan keringatnya. Sadis! tapi nikmat luar biasa. Tidak jarang aku disiksa, dihajar, bahkan "diper-anjing" alias diperlakukan seperti seekor anjing.Disuruh merangkak telanjang bulat,leherku dirantai seperti anjing dan dipaksa makan dari tempat makan anjing! Sekali-sekali punggungku dihajar dengan tendangan atau lecutan cemeti. Nikmat sekali!

Jo banyak sekali idenya dalam hubungan seks s/M, sangat kreatif, sadis, dan amat humiliating - menghinakan. Dia juga suka memaksa aku menjilati kakinya. Bangsat! Siksaan favoritnya adalah mencambuki punggungku dengan "cat nine o'tail", branding= menempeli pahaku dengan besi panas, dan menyetrum biji-peler dan kontolku dengan sengatan listrik. Dia juga senang membakari jembutku dengan lilin atau rokok menyala.

Kadang-kadang terpikir olehku, apakah pada suatu saat terjadi konflik di antara kami, seperti yang lazim terjadi pada pasangan homoseks?. Bagaimana jika dia berubah dan memaksa aku secara fisik untuk menyerahkan harta-ku? Pasti, aku tidak akan sanggup menghadapi Si Jo yang besar berotot itu!. Apakah aku sudah terjerumus pada suatu hubungan berbahaya? Bagaimana jika Jo kelak ketagihan Narkotik atau kelak (atau sekarang sudah HIV+)?

Biarlah aku pasrah saja, yang penting sekarang aku nikmati kontol dan pejuh Jonathan-ku sepuas-puasku. Badannya kenceng dan dan nikmat banget!. Begitu juga KONTOLLL-nya. Mudah saja dan asyiik bukan?!.

Pembaca MONT-Cabul yang budiman, tolong kirimkan salam sayangku pada fans beratku : Irgi Ahmad Fahrezi yang sudah empat tahun pacaran dengan Feny (Veny) Arishanty, semoga Irgiku sayang dan tercinta makin ganteng, sukses dan top saja.Amin!

Aku juga sayang pada Bang M. Arief S. Suditomo - Penyiar Liputan-6 SCTV. Tapi, seorang Irgi sudah cukup buat aku. Sebab, Bang Arief 'kan sekarang sudah jadi milik Ayu Susan, ibu-nya anak Bang Arief alias isterinya Kak Arief! OK?!


Minum air kencing Yuswan untuk kesehatan.

By Negus Johan Pahlawan

submitted November 21, 2003
Translate from:
To
Text Size:

Di India ada tradisi untuk membasuh tangan, muka, dan minum air kencing binatang suci Nandini alias sapi,yaitu kendaraan Batara Wisnu. Menurut mereka yang mempraktekkan tradisi ini, air kencing sapi dan air kencing sendiri, baik untuk kesehatan!

Sejak Yuswan secara teratur menyambangi aku di rumah, maka aku jadi rutin minum air kencingnya. Sebetulnya, bukan minum kencing Yuswan "an sich" yang penting bagiku,melainkan mengisap kontolnya.

Seperti halnya umumnya laki-laki Indonesia, maka kemampuan Yuswan untuk memuncratkan pejuhnya juga terbatas! Dia paling-paling bisa memuncratkan pejuh dua atau tiga kali sehari! Tapi karena aku amat ketagihan mengisap kontol [nyepong] Yuswan, maka aku mencari-cari alasan. Yang paling tepat adalah bahwa aku mengaku perlu air kencing Yuswan untuk "obat"! Sehingga setiap kali kencing, dia merasa "terpanggil" dan "bertanggung-jawab" untuk menyerahkan air kencing yang keluar dari lobang kencing di kontolnya itu untuk aku minum dan aku telan. Tentu saja langsung dari kontolnya yang terkenal berukuran besar, disunat ketat dan amat ledzatt itu!

Meskipun kami sudah jadi pasangan "suami-suami", [bukan pasangan suami-isteri, karena kami sama-sama lelaki], tapi aku tetap saja berdebar-debar setiap kali berada dekat-dekat Yuswan. Darahku juga berdesir-desir bagai suara air di pegunungan atau daun kelapa dipantai yang dihembus angin laut karena aku terpukau oleh kegantengan wajahnya dan keketatan otot tubuhnya. Kontolku juga ngaceng di buatnya! Teman-temanku sesama homosex mengatakan bahwa aku selalu melebih-lebihkan setiap lelaki yang sedang jadi pacarku :"Dulu waktu Rizal juga begitu" kata mereka! Tapi sungguh mati aku tidak melebih-lebihkan. Atau barangkali aku yang memang lagi tergila-gila pada Yuswan.Persis seperti Siti Zulaika yang tergila-gila pada ketampanan Nabi Yusuf[menurut Kitab Suci]!Aku paling suka mengata-kan bahwa Yuswan mempunyai kualitas kegantengan Ponco Buwono, Dimas Seto, dan Marcel dengan otot yang ketatnya bagaikan otot Primus Yustisio!Tapi bagian tubuh Yuswan yang jadi favoritku banget-banget adalah : KONTOLNYA!

Kalau aku sedang mengisap kontolnya dan pejuhnya sekalian lagi muncrat maka terasa ada denyutan-denyutan nikmat pada batang kontolnya seeeeeeer.. CROOOOOOOOOOT! ..CROOOOOOOOOOT! ..CROOOOOOOOOOOT! Pejuhnya yang lender dan berbau khas pejuh itu terasa hangat, licin memenuhi mulutku dan keluar ke bibirku! Rasanya bercampur baur antara asin-manis-tawar dan.... nikimattt! Akan terasa tambah nikmat kalau sambil berbuat,aku berfantasi sedang mengisap kontol Bang Abdul Rasyid [Metro TV] yang ganteng dan cerdas itu!

Sedangkan kalau aku sedang mengisap kontolnya dan sekalian dia kencing,maka yang aku rasakan adalah seeeeeer.. lalu terasa ada cairan hangat memancar dengan deras menghangati mulut, lidah, langit-langit dan kerongkonganku!Ledzatt dan sehat!Ta'i! [Mungkin rasanya akan sama ledzatnya sewaktu aku kelak diizinkan untuk minum urine Bang Abdul Rasyid-ku yang teramat sangat ganteng, jantan dan cerdas itu]!

Penampilannya yang jantan dan kelaki-lakian tapi ditingkah dengan sikapnya yang pasrah dan ikhlas untuk menyerahkan bagian-bagian tubuhnya kepadaku buat aku nikmati habis-habisan itulah yang bikin aku jadi tambah gemessss kalau berhubungan badan dengan Yuswan!

Rasanya tidak ada bagian tubuh Yuswan, baik yang menonjol, yang rata, yang lekuk, yang licin atau yang berambut yang tidak nikmat untuk dipandang, dielus,dipijat atau dijilat,semua ledzattt! Untuk bagian tubuh Yuswan yang berambut, maka favoritku banget-banget adalah jembut dan tentu saja rambut ketiaknya. Indah, jantan dan kelaki-lakian!


Sanggama sejenis dengan pengantar parcel.

By Negus Johan Pahlawan

submitted November 21, 2003
Translate from:
To
Text Size:

JOB SATPAM SAAT LEBARAN

Jika para pegawai negeri dapat melaksanakan cuti bersama pada waktu lebaran, tidak demikian halnya dengan kami yang kerja Satpam dan Bodyguard.Pada waktu lebaran job cukup banyak, bahkan ada juga job mengawal keluar kota atau menjaga rumah orang-orang berduit yang mau berlibur keluar negeri dan meninggalkan rumahnya dalam keadaan kosong.Tugas menjaga rumah kosong bukan pekerjaan menyenang-kan. Bayangkan, berjam-jam duduk di rumah jaga yang sempit atau di teras rumah amat membosankan.

Apalagi kalau malam banyak nyamuk. Belum lagi mau makan susah, karena waktu lebaran warung-warung tutup semua! Tapi itulah risiko "jabatan". Yah! Jabatan Satpam! Di Indonesia, pekerjaan Satpam belum dianggap terhormat.

CERITA TENTANG BAMBANG SI SATPAM GANTENG

Aku ingat temanku Bambang sesama Satpam. Orangnya ganteng, badannya atletis, otot-otot juga indah! Dia punya ijazah D-3. Tidak heran jika pacarnya yang mahasiswi amat tergila-gila pada Bambang. Tapi apa daya?Waktu orang tua si gadis tahu bahwa anaknya pacaran dengan seorang Satpam, langsung dipaksa hubungan mereka harus putus!

Meskipun si gadis memohon-mohon.Tapi orang tuanya tetap tidak sudi bermenantukan seorang Satpam! Bambang sempat back-street beberapa bulan, tapi kemudian si gadis diungsikan keluar negeri oleh orang tuanya! Supaya dia bisa melupakan Bambang! Si gadis sekarang kuliah di Australia! Tiap hari masih rajin menelepon Bambang Si Satpam cakep itu!

Si gadis juga selalu minta dikirim jembut beserta rambut ketiak Bambang buat "obat kangen". Keruan saja tiap minggu Bambang harus mencabuti sebagian jembut dan rambut ketiaknya buat dikirim per pos ke Australia. Si gadis tak mau jembut atau rambut ketiak hasil cukuran.Dia minta hasil cabutan yang ada akar-akar rambutnya.Si gadis hanya mau jembut dan bulu-ketek Bambang yang benar-benar masih utuh. Gila! Bambang sering mencabuti jembut dan bulu-keteknya saat piket barengan aku. Aku selalu minta jatah! Paling tidak sejumput jembut dan sejumput bulu-ketek Bambang buat kenang-kenangan. Untung saja Bambang bermurah hati dan mau berbagi [sharing] jembut serta bulu-keteknya denganku!

Sebetulnya sebelum dipaksa pisah. Si gadis sudah berkali-kali minta agar Bambang mau mengentotinya sampai hamil sehingga mereka terpaksa kawin. Tapi karena Bambang "anak baik". Dia tidak mau berbuat maksiat.

Meskipun begitu, karena si gadis sering memaksa, minta mencicipi kontolnya, Bambang terpaksa harus mengizinkan si gadis untuk menjilati dan mengisap kontolnya yang ukurannya sebesar kontol kuda Arab atau kuda Australia itu. Tentu saja si gadis jadi ketagihan dan diam-diam Bambang juga lama-lama merasa keenakan kontolnya disep-isep cewek! Ta'i!

Si gadis belum puas mengisap kontol Bambang kalau pejuh Bambang yang banyak dan kental itu belum muncrat berceceran kemana-mana. Padahal aku yang teman dekat Bambang sudah beberapa kali "anprah" [anfraag - mengajukan permohonan] untuk mencicipi kontolnya, tapi nggak pernah dikasih. Alasannya! "Jangan dong! Gua'kan bukan homo", begitu selalu alasan penolakan Bambang secara halus,setiap aku minta izin untuk mengisap kontolnya yang pasti ledzatt itu!

Aku berteman baik dengan Bambang.Meskipun Bambang tahu bahwa aku seorang cowok gay sialan, tapi aku yakin Bambang tak akan pernah membocorkan rahasia-ku. Dia baik dan pengertian! Tak heran jika gadis pacarnya itu tak mau lepas dari pelukan Bambang yang hangat dan nikmat itu. Apalagi Bambang juga tergolong "cowok wangi". Paling tidak, kalau kami berdua barusan latihan beban atau jogging bersama tidak pernah tercium olehku bau keringat Bambang. Dia memang cowok hebat! Kekurangan Bambang adalah bahwa dia seorang Satpam! Itu saja!

Walaupun aku tak pernah diizinkan mengisap kontol-nya, tapi aku dibolehkan untuk memijat badannya. Kalau Bambang sedang aku pijat, aku selalu minta agar dia bertelanjang dada atau hanya mengenakan kancut saja. Tentu saja kontolku jadi ngaceng dan kepalaku jadi pusing karena terangsang keindahan pemandangan tubuh laki-laki seperti Bambang itu. Gila! Demikianlah kisah tentang Bambang yang ber-ijazah D-3 Akuntansi seperti Yuswan tapi terpaksa kerja jadi Satpam!

Kalau sedang berstatus bodyguard maka perlakuan klien terhadap kami agak lumayan,tapi kalau dalam status Saptam, kami biasanya akan diperlakukan sebagai "orang belakang" [pembantu,supir, kacung, dan tukang kebon]. Tapi aku selalu bersyukur dan berpikir positif.Masih bagus aku punya pekerjaan!

CERITA MENJAGA RUMAH DI PONDOK INDAH

Tahun lewat aku dapat job menjaga rumah seorang bos di Pondok Indah.Entah mengapa!Katanya Satpam yang biasa bertugas disitu dapat pekerjaan baru yang lebih baik, sedangkan gantinya belum ada.

Kebetulan yang punya rumah cukup baik dan sangat kaya. Di samping garasi mereka ada kamar dengan dua tempat tidur yang dilengkapi kamar mandi dan dapur kecil untuk Satpam. Mungkin aslinya kamar ajudan atau supir. Aku boleh memanfaatkan kamar itu,karena tugasku benar-benar jaga 24 jam selama dua minggu. Bayangkan!

Untung saja, meskipun rumah di Pondok Indah itu sangat besar tapi dikelilingi pagar tinggi yang dilengkapi dengan alarm, aliran listrik, kamera monitor dan entah apa lagi.

Karena Bos yang rumahnya aku kawal itu banyak koneksinya,maka kiriman parcel lebarannya bertubi-tubi. Bahkan seakan tak akan pernah berhenti. Ada yang diantar perusahaan parcel, ada yang diantar pegawai kantor pengirim, ada juga yang diantar mahasiswa yang lagi ngobyek buka usaha parcel atau ngobyek menyediakan jasa pengiriman parcel. Ada yang megirim kue-kue, buah-buahan, porselin, elektronik, kosmetik, dan masih banyak lagi!

Tiga hari menjelang lebaran, datang lagi parcel. Kali itu agaknya yang mengantar seorang mahasiswa yang tampangnya menawan dan tubuhnya atletis bak binaragawan pemula. Kontak saja aku jatuh hati melihat pemuda tampan seperti yang diceritakan di kitab-kitab suci itu. Mahasiswa itu tampak agak lelah. Apalagi lalu lintas di jalan raya depan rumah itu sedang macet berat.Karena itu, dia aku tawari istirahat dulu dan aku ambilkan soft-drink dari lemari es yang ada di kamar Satpam. Dasar hokkie-ku lagi bagus, dia mau istirahat dan minum. Dia bilang hari itu dia sedang tidak puasa.Tetapi aku merasa tidak perlu bertanya apa alasannya!

Aku mengajak dia ngobrol. Sementara mata homoku yang jalang asyik menikmati keindahan wajah dan tubuhnya yang putih dan atletis itu! Lengannya amat menawan. Kalau dicari bandingan dengan hasil karya Michael Angelo mungkin penampilan mahasiswa yang mengaku bernama Denny ini adalah kombinasi dari keindahan patung Neptunus dan patung David!

Tapi malang! Sewaktu aku sedang keenakan mencuri pandang, rupanya aku kepergok dan aku merasa dia menatap tajam! Aku kelicutan dan salah tingkah! Tapi dasar hokkieku lagi bagus saat itu. Tiba-tiba tangannya yang kekar itu memegang tanganku dan berkata "Ada apa Mas lihat-lihat saya? Mau main sama saya?". Aku merasa seperti maling yang kepergok nyolong jemuran!Tapi aku tak mau kalah!

"Ya. Kita main saja.Kenapa tidak" jawabku tegas, jawaban laki-laki!"Mobilnya parkir di dalam saja! Supaya aman" sambungku. Dia bangkit dari duduknya dan aku membuka pintu di gerbang masuk rumah itu. Denny memarkir mobilnya di car port.

Setelah pintu gerbang aku kunci aku bawa Denny ke kamar tidur Satpam dan tanpa menunggu lebih lama baju kaos Denny aku lucuti dan segera saja aku menampak tubuh indah Denny yang berotot ketat dan atletis itu. Aku melepas baju Satpamku dan akhir-nya aku putuskan untuk menelanjangi Denny, juga diriku sendiri.

Maka jadilah siang itu siang Jahanam [Neraka] dan kami berdua adalah penghuninya.Seperti orang yang kehausan sex, segera saja aku mencocor seluruh tubuhnya yang indah dan ketat itu dengan mulut, lidah dan bibirku.Aku sibuk menikmati tubuh ketat mahasiswa yang umurnya mungkin baru 19 tahun tapi kontolnya amat ledzat!Karena aku terlalu bernafsu maka belum sampai 15 menit pejuh kami berhasil muncrat bareng: CROOOOOOOT! CROOOOOOO CROOOOOOT! CROOOOOOT!

[Tamat/ The End]


Percabulan dengan cowok-cowok straight

By Negus Johan Pahlawan

submitted November 24, 2003
Translate from:
To
Text Size:

ALEX DAN BAMBANG

Aku punya doa sobat straight yang aku gandrungi, yang pertama dalah Alex dan yang kedua adalah Bambang. Keduanya sejawatku sesama Satpam. Alex sudah menikah dan punya anak satu. Bambang masih lajang dan dalam taraf pacaran. Yang kusukai dari kedua sahabatku yang straight itu, bahwa keduanya ganteng, badannya atletis, dan orangnya penyabar.

Sebagai straight tentu saja mereka tidak mengizin-kan aku menikmati bagian-bagian tubuh mereka yang ledzat dan merupakan favoritku. Seperti : kontol, biji peler, jembut, puting susu dan ketiak. Tapi kalau aku nyolong-nyolong dan sampai ketahuan pun mereka tidak marah.Meskipun tentu saja "complain" dan mengomel ringan. Itulah yang aku maksudkan dengan mereka "penyabar".

Pernah aku piket barengan Alex. Karena kelelahan dia tertidur. Sengaja tidak aku bangunkan. Diam- diam aku buka risleting celananya dan aku singkap kancutnya untuk mengakses kontolnya yang besar dan disunat ketat itu.Kemudian aku isap kontolnya dengan mulutku sampai pejuhnya bermuncratan dalam tidur nyenyaknya. Setelah pejuhnya muncrat dia terbangun dan waktu melihat aku sedang sibuk dan asyik menjilati ceceran pejuh di lobang kencing-nya dia hanya mengomel : "Gila juga lu!". Tentu saja aku harus minta maaf atas kekurang-ajaranku itu dan Alex mau memaafkan kelakuan bejatku itu!

Alex terpaksa mandi junub dan meskipun pejuhnya yang berceceran di kancut dan celana seragam biru Satpamnya sudah bersih aku jilati, tetap saja dia harus ganti kancut dan celana. Karena sudah najis kena pejuhnya sendiri!

Aku juga senang mengelus-ngelus punggungnya yang kekar dan keras. Atau "meminjam" lengannya yang bagus dan atletis untuk aku peluk-peluk ke dadaku atau aku cium-cium atau sekedar aku elus-elus.Agh nikmatt! Kalau aku hanya main-main begitu, Alex masih mau memberi toleransi.Tidak heran jika aku sangat sayang pada Alex. Aku merasa bahwa Alex adalah sahabat dan kekasihku sekaligus. Aku juga bersyukur bahwa aku telah diberi Tuhan sahabat seorang Alex!

Berbeda dengan Alex,Bambang lebih sering complain dan mengomel kalau aku nakali, tapi tidak pernah marah besar. Padahal Bambang lebih ganteng dari Alex. Meskipun Bambang hanya seorang satpam, tapi wajahnya seganteng Ponco Buwono, otot tubuhnya seketat tubuh Primus Yustisio, dan kontolnya sama besar dengan kontol Ricardo yang konon adalah kontol manusia yang terbesar di Jakarta! Bambang punya ijazah D-3 Akuntansi. Dia teman seangkatan Yuswan.Yuswan adalah cowok "simpanan"-ku di rumah! Hanya nasib saja yang membawa Bambang ke profesi Satpam. Teman-teman sering ngeledek Bambang,kata-nya "Bambang itu tampangnya tampang Ponco Buwono, badannya badan Primus Yustiso, kontolnya kontol Ricardo, tapi rezekinya rezeki Satpam. Kasihan!"

Bambang hobby pijat atau urut. Kebetulan aku juga jagoan massage, bahkan aku punya ijazah massage. Tentu saja "kesempatan emas" ini tak aku sia-sia-kan.Tanpa diminta, aku buat jadwal urut Bambang. Tadinya aku buat tiga kali seminggu, tapi Bambang menolak.Dia bilang dua kali seminggu juga udah kebanyakan!Aku menurut saja! Maka jadi-lah setiap Selasa dan Jum'at Bambang aku urut!

Tentu saja kontolku ngaceng berat sewaktu sedang mengurut tubuh Bambang yang atletis serta berotot ketat dan berwajah ganteng bagaikan Ponco Buwono itu! Apa lagi dia hanya berpenutup kancut minim yang maximum exposure itu! Sewaktu mengurut otot dadanya, sengaja aku lama-lamain dan pura-pura tanganku tergesek-gesek puting susuya yang indah, ketat dan melenting, amat kelaki-lakian dan amat menggoda imanku itu! Kalau terjadi seperti itu Bambang langsung complain:"John,lu ngurut, ngurut aja. Tetek gua jangan lu kobok-kobok!". Lalu aku pura-pura tak sengaja dan menyahut :"Sorry mBang, sorry banget!.Nggak sengaja 'kok!".Kalau Bambang complain aku tak mau kurang ajar, takut aku nggak diizinkan ngurut dia lagi.Setiap kali aku selesai mengurut Bambang aku pasti harus ngeloco! Sekedar mengentengkan kontolku dari desakan keras pejuh! Akibat rangsangan intens dari pemandangan tubuh Bambang yang sexy, ketat dan indah itu! Gila!

SEX SEJENIS DENGAN STRAIGHT

Berdasar pengalaman hidupku yang bejat dan juga dekaden ini,berhubungan sex sejenis dengan cowok straight terasa lebih nikmatt! Aku sering dipakai oleh beberapa straight. Seperti suami artis yang iseng atau mantan suami artis yang mau mengenteng-kan biji pelernya yang sudah luber dengan pejuh. Karena isterinya tak sempat dipakai, kebanyakan syuting! Atau tak bisa dipakai lagi, karena sudah resmi cerai!Kalau straight main dengan aku mereka sering lupa bahwa mereka sedang berhubungan sex dengan sesama jenis yang "straight forward". Tak usah pakai foreplay.Tentu saja aku amat menikmati hubungan sex yang didahului foreplay.Cium-ciuman, cipok-cipokan,tiup-tiupan,jilat-jilatan.Nikmat!

Padahal jika hubungan sex dengan cowok homosex atau bi-sex, mereka langsung main rojok lobang pantatku tanpa ba, bi, bu atau main sodok mulut-ku dengan kontol mereka! Anjing!

Lebih gila lagi kalau main sex sejenis dengan straight yang sadis.Kalau menghajar badan mantap betul rasanya! JEPRETT!JEPRETT!JEPRETT! Mungkin dianggapnya badanku tak punya syaraf sakit.Keras sekali ayunan pecut atau ikat pinggangnya. Pegal, perih, nyeri, dan...nikmat bersatu padu di otak, kontol,dan bagian badanku yang kena hajar! Gila! Yang seperti ini biasanya kualami kalau hubungan sex sejenis dengan tentara, khususnya CPM.

"Nikmatnya" lagi biasanya mereka main ikat atau main borgol. Jadi aku benar-benar tidak berkutik, harus menurut apa saja yang mereka perbuat kepada-ku sampai selesai! Sampai mereka puas atau bosan menyiksa. Kalau aku sedang mengalami penyiksaan berat dan keadaan telanjang bulat seperti itu ter-kadang aku berpikir jangan-jangan aku disiksa sampai mati oleh partner sex-ku yang sadis itu.

Tidak jarang, aku juga takut kalau aku disiksa sampai cacat. Beberapa partner sex-ku ada yang suka membakar atau meamnaskan besi untuk ditempel-kan [di-jos] kepahaku. AAAAAAAAGH! Sakitnya bukan main,.. bercampur nikmattt luar biasa akan tindak kesadisan yang kejam diluar batas perikemnausiaan itu! Seorang temanku yang kontolnya kulup [tidak sunat], pernah main sex sadis keterlaluan sampai-sampai kulupnya [foreskin] digunting oleh partner-sexnya yang dokter militer.Tentu saja dia pingsan semaput kesakitan! Belakangan dia tahu, bahwa si dokter militer yang rada-rada gila itu melanjut-kan menyunat kulupnya sambil bertelanjang bulat selagi hubungan sex itu. Dasar orang sakit jiwa!

Aku juga pernah mencoba main dengan Praja Senior STPDN. Dan memang benar-benar mereka biadab main-nya.Sebelum lobang pantatku diembat dengan kontol mereka, aku benar-benar ditonjok, digampar dan ditendang.Padahal kalau main dengan tentara yang doyan menyiksa tahanan pun,aku tak pernah ditinju dengan tangan kosong, selalu pakai alat penyiksa! Minimal ikat-pinggang, koppelriem atau draagriem! Walaupun badanku sama-sama habis kena hajar benda-benda keras seperti itu,tapi aku anggap itu lebih sopan.Karena terasa amat militeristik, jantan dan kelaki-lakian.Kalau Praja STPDN mainnya kampungan dasar sekolah biadab! Anjing!

Aku berkhayal hubungan sex sejenis sambil disiksa seperti itu. Tapi yang menyiksa aku harus Bang Abdul Rasyid [Metro TV] atau Ponco Buwono. Pasti nikmatt!Kalau nggak mau nyiksa juga nggak apa-apa asal aku boleh mengisap kontol Bang Abdul Rasyid dan Ponco Buwono sampai pejuh mereka muncrat dari lobang kencing mereka CROOOOOT! CROOOOT! CROOOOT! Sedappp!

[Ta'i]




Hidup dalam penyanderaan terselubung.

By Negus Johan Pahlawan

submitted November 27, 2003
Translate from:
To
Text Size:

PELACURAN DAN PERBUDAKAN

Penyanderaan dan perbudakan terselubung sangat lazim di dunia pelacuran. WTS adalah orang-orang yang tersandera di lokalisasi atau rumah-rumah bordil.Mereka tak boleh meninggalkan lokasi atau rumah pelacuran tanpa pengawalan body-guard atau centeng.Mereka juga hanya menerima sebagian kecil dari upah hasil melacur.Sebagian besar upah hasil melacur dipotong oleh mucikari [pengelola atau pemilik rumah bordil] untuk biaya makan dan sewa kamar!

Karena itu pelacuran merupakan lingkaran setan yang tak pernah bisa diberantas selama masih ada bisnis pelacuran, ada aparat yang jadi backing bisnis pelacuran dan ada orang miskin yang bisa disandera untuk dijadikan pelacur. Jadi,akar dari masalah dari pelacuran : kemiskinan, pemiskinan dan premanisme aparat! Bukan masalah moral!

HOMOSEX JANTAN

Berbeda dengan pelacuran heterosexual, pelacuran homosexual-jantan[yang bukan waria,bukan bencong, bukan sissy, non-transvestit dan non-drag-queen] lebih didasari kepada "kebutuhan sex". Jadi ada unsur moralisme!

Aku suka menggunakan istilah "homosexual-jantan", karena aku [dan kita ini semua]tampil biasa saja, jantan dan kelaki-lakian! Kami hidup "normal" seperti laki-laki lain.Bahkan ada yang[pura-pura] berkeluarga dan punya anak seperti laki-laki lain-nya.

Aku "beruntung" bisa terjerat atau terjaring pada jaringan homoseksualisme-jantan ini. Sehingga aku bisa "menikmati" hidup sebagai manusia,yaitu bisa memenuhi kebutuhan biologis makan, minum dan sex! Dalam hal ini sex sejenis. Aku terlahir sebagai homosex murni, hanya bisa berhubungan sex dengan sesama laki-laki [Nikmatt bangeth,lho!].

SUDAH SERING "DIPAKAI" SEJAK REMAJA

Hubungan sex sejenis dengan sesama laki-laki yang aku lakukan untuk pertama kali adalah waktu aku memulai karir di suatu "Production House". Suatu malam aku disetubuhi oleh seorang aktor terkenal -bintang sinetron.

Kejadian seperti itu terulang lagi dengan aktor lain.Apakah kejadian-kejadian itu kebetulan saja, ataukah ada yang "mengatur" aku tak tahu. Waktu itu aku menurut saja,ya menuruti nafsu para aktor yang wajahnya ganteng, tubuhnya besar dan kekar. Tapi kenapa 'kok mereka doyan sejenis dan memakai aku jadi obyek pelampiasan sex sejenis mereka?!

Sejak remaja aku sudah tahu bahwa aku hanya suka sesama jenis. Oleh karena itu waktu aktor-aktor itu melakukan "sex advancement" aku pura-pura innocent dan menyerahkan seluruh tubuhku secara utuh untuk mereka nikmati dengan rakus! Agaknya sikap pasrahku waktu itu membikin mereka makin bernafsu!Setelah "main" aku diberi uang tali asih yang sangat besar.Mungkin dimaksudkan untuk uang tutup mulut!

Meskipun aku tidak pernah diancam tapi aku sempat khawatir akan "dilenyapkan"!Apalagi di media masa sering diberitakan tentang peristiwa pembunuhan terhadap partner sex sejenis dengan motif untuk menutupi-nutupi rahasia hubungan sex sejenis!Aku tidak takut mati.Yang aku takuti adalah kalau aku mati terbunuh lalu diberitakan bahwa aku dibunuh karena latar belakang sex sejenis!Alangkah aibnya namaku dan nama orang-tuaku. Aku memang miskin! Tapi aku tidak mau jadi orang miskin yang mati dalam keadaan nista!

Di tengah-tengah istirahat syuting, aku pernah dibawa oleh seorang aktor dengan mobil ke sebuah rumah mewah untuk disetubuhi.Aku disuruh oral sex dulu lalu dia melampiaskan nafsu sex binatangnya dengan cara menyodomi pantatku. Karena keasyikan menikmati lobang boolku Si Aktor Laga yang tubuh-nya berotot ketat dengan rambut ketiak lebat itu jadi terlambat syuting. Sutradara dan teman-teman sejawatnya beserta crew lainnya marah-marah. Tapi karena dia dekat dengan Bos Besar, tidak ada yang berani menegur!

Usiaku waktu itu sudah [atau baru 18 tahun] dan aku berstatus jadi office boy! Tapi karena aku baby face banyak orang mengira aku baru berumur lima-belas atau enam-belas tahun.Mungkin ini yang membikin aktor-aktor itu penasaran ingin mencobai mulutku dan lobang pantatku yang sempit!

Tapi justru melalui jaringan persetubuhan sejenis inilah aku kemudian bertumbuh dan berlatih sampai bisa jadi body-guard seperti sekarang! Ternyata selain para aktor,aku juga kemudian mulai dipakai Pak Bagyo[Kolonel Subagyo] teman dekat Bos Besar. Setelah itu, aku sering disuruh melayani perwira-perwira muda. Mereka ini senang main kasar. Kelak lecutan cambuk, tamparan, pukulan dan tendangan merupakan makananku ketika aku sedang "dipakai" langganan militer. Tapi cara ini yang membuat aku jadi seperti sekarang! Aku sangat berterimakasih kepada mereka! Dulu aku sering disuruh "melayani" mereka di Mess Perwira dan disitu aku diperlaku-kan dengan kejam seperti Capratar di Akmil!

Melalui jaringan ini, dari office boy aku jadi Satpam setelah ikut latihan di Lido.Melalui abang-abang perwira[yang kalau di tempat tidur sadisnya bukan main] inilah aku bisa belajar karate sampai mencapai kualifikasi ban hitam dan aku bisa ikut latihan binaraga!

Mereka suka "melatih" aku karena mereka boleh ringan tangan memukuli aku sesuka mereka! Mereka mengira aku "penurut" padahal aku mau dipukuli karena aku masochist. Para perwira itu muda-muda, ganteng-ganteng, atletis dan sadis. Aku senang dihajar oleh cowok-cowok seperti itu.

Tiap kali aku habis dipukuli atau dihajar dengan gesper oleh para perwira itu [dalam keadaan babak belur dan berdarah-darah]aku langsung coli,onani, masturbasi dengan nikmatt! Tembok-tembok di kamar mandi dan WC Mess Perwira itulah saksinya!

SATPAM YANG TERSANDERA

Sekarang ini,boleh saja aku jadi Satpam merangkap body-guard,berbadan besar dan berotot, kualifikasi karate ban hitam.Tapi kenyataannya aku tidak bisa bebas pergi kemana aku suka, atau pindah kerja ke perusahaan yang aku suka.Sekarang ini aku terikat pada Security Agency yang mempekerjakan aku!Kalau aku dapat job atau kontrak kerja yang menarik, tiap saat bisa batal kalau Mas Naryo mengatakan tidak boleh atau "memerlukan" aku.

Kalau Mas Naryo "memerlukan" aku,artinya aku akan dihajar, dipecut, disiksa, semau-mau dia, dan aku harus mau dan harus menurut! Bukankah itu suatu model penyanderaan atau perbudakan terselubung?

Mengapa aku tidak kabur atau berontak? Itu adalah pertanyaan yang bagus. Tapi aku mau tanya, kalau aku kabur, aku mau kerja apa dan dimana? Apakah mau jadi pemulung? Atau tukang parkir? Sorry, ya! Bagaimanapun, sekarang aku sudah mencapai level kehidupan tertentu dan aku tidak mau dan tidak sudi melorot lagi!

Aku sudah senang dan bahagia, jadi Satpam dan sekali-sekali jadi body-guard. Kapan-kapan jadi cabo-lelaki [pelacur laki-laki, gigolo, kucing] atau budak sex Mas Naryo yang ganteng dan atletis itu.

Sekali-sekali dihajar dan dicambuk? Itu adalah bumbu kehidupan, bumbu sex, seperti sambal dalam hidangan kita sehari-hari. Pedas tapi nikmat dan kita tidak pernah kapok walaupun sekali-sekali kepedasan atau sakit perut bahkan mencret, akibat kebanyakan sambel!

Jadi, kemungkinan besar aku akan jadi Satpam cum Body-guard sampai aku mati, sambil jadi budak sex sesama jenis! Nikmat bukan?! Dasar homosex bejat!

[Ta'i]

Montir-Montir Nakal

By Homo

submitted January 18, 2004
Translate from:
To
Text Size:

Cerita ini FIKTIF belaka, diilhami oleh sebuah film porno

homoseksual yang dibintangi oleh si seksi Aidan Shaw. Bagi yang

pernah melihanya, pasti tahu jalan ceritanya. Tapi bagi yang belum,

saya akan menceritakannya tapi dengan sedikit bumbu penyedap ;)

Bagi yang ingin kenalan, silhkan tulis ke brycejlover@yahoo.com.

Webpage-ku: www.geocities.com/brycejlover/profileindo.htm

By Endy

Siang itu, saya menyetir mobilku ke sebuah bengkel. Terus terang,

bengkel itu bukan bengkel langgananku. Ayahku yang mengusulkan

bengkel itu. Katanya, para pekerja bengkel itu amat cermat dan

servisnya memuaskan. Jadi, kupikir tak ada salahnya untuk mencoba.

Dari luar, bengkel itu nampak tak jauh berbeda dengan bengkel

lainnya. Tanpa kesulitan, saya menyetir mobilku masuk dan berhenti

di dalam garasi bengkel itu. Begitu saya keluar dari mobilku, tiga

montir pria mendatangiku. Tampang mereka ramah, berwajah tampan bak

cover model. Seragam montir mereka berlumuran oli dan berbau

keringat. Tangan mereka terlihat besar dan kokoh. Dengan ramah,

seorang dari mereka menyalamiku dan berkata, "Saya Adi. Kepala

montir di sini. Dan mereka ini Rudi, dan Parjo. Anda anaknya Tuan

Lamlo?" Saya mengangguk. Entah kenapa, senyuman Adi berubah menjadi

sedikit mesum, seolah dia ingin mneggodaku. Astaga, jangan-jangan

si Adi homo. "Anda tak usah khawatir, kami akan memperbaiki mobil

Anda dalam sekejab," tambah Adi, berdiri semakin dekat denganku.

"Palingan knalpotnya butuh disedot, kemudian disodok. Cairan olinya

akan kami kuras sampai kering, dan menggantinya dengan yang baru,"

kata Rudi, mendekatiku. Entah kenapa, omongannya, meskipun tentang

mobil, berbau seks. Sepintas Adi, Rudi, dan Parjo kelihatan hampir

sama. Tubuh mereka semua tegap dan kekar, mungkin akibat kerja

keras mereka selama di bengkel. Di antara mereka semua Adi-lah yang

paling tampan. Kulit mereka memang sedikit gelap. Saya terlihat

kontras sekali berdiri di sana sebagai seorang Chinese, berhubung

warna kulitku putih mulus. Satu-satunya hal aneh tentang mereka

yaitu mereka kelihatan sangat homoseksual. Mereka gemar saling

meraba. Pria straight takkan suka meraba-raba tubuh pria lain!

"Papa Anda tadi telepon dan mengabarkan bahwa Anda akan datang.

Beliau berpesan agar kami menyediakan servis yang paling

memuaskan," tambah Adi, kini telah berdiri tepat di hadapanku.

Napasnya yang panas terasa sekali di kulit wajahku. "Anda takkan

menyesal dengan servis kami." Para montir itu mengelilingiku dan

mengepungku.

Tiba-tiba Parjo memegangi kedua tanganku dari belakang. Terkejut,

saya berusaha untuk melepaskan diri, namun tangannya terlalu kuat.

Kemudian, Adi maju dan mulai membuka paksa kemejaku. Sekali tarik,

kancing kemejaku lepas dan jatuh ke lantai. Sementara itu, Rudi

berjongkok dan sibuk melucuti celana panjangku. Saya ingin

berteriak minta tolong, namun entah kenapa saya tidak melakukannya.

Celana panjangku sudah terbuka, meski belum jatuh ke lantai. Adi

menyisipkan tangannya ke dalam celana dalamku. Kontolku bereaksi

dan mulai menegang. "...aaahhh... hhoohhh... uuuhh..." desahku

ketika Adi memain-mainkan kepala kontolku. Rasa nikmat mulai

menyerang diriku. Saya tahu saya takkan dapat kabur dari mereka,

maka saya lebih memilih untuk bekerja sama. Lagipula, saya sendiri

juga akan kebagian rasa nikmat itu.

Mengetahui bahwa saya tak lagi meronta-ronta, Parjo melonggarkan

pegangannya. Setelah kemeja dan celana panjangku lepas semua,

keempat montir bejat itu mulai terangsang. Kontolku sendiri masih

terperangkap dalam celana dalamku karena Adi memutuskan akan lebih

seksi untuk membiarkanku memakai celana dalamku. Bergantian,

montir-montir itu menurunkan restleting seragam mereka. Tubuh-tubuh

indah yang dihiasi otot pun mulai bermunculan. Dalam sekejab, di

sekelilingku terdapat tiga pria macho telanjang, masing-masing

dengan kontol ngaceng.

Adi mendekatiku dan mulai meraba-raba sekujur tubuhku. Kontolku

diremas-remas dan bibirku dicium-cium. Sementara Parjo, dari

belakang, mengelus-ngelus punggung dan belahan pantatku. Rudi, tak

mau ketinggalan, mencium-cium kakiku sambil mencoli kontolnya

sendiri. Suasana di dalam bengkel itu menjadi sangat panas dan

bergairah. Saya pun terbawa nafsu dan mulai menikmati seks sejenis

itu. Dari dulu saya memang telah menduga-duga bahwa saya adalah

seorang homoseksual, tapi saya tidak yakin. Kejadian di bengkel itu

mengubah semuanya, meyakinkanku akan homoseksualitasku.

"Cowok Cina ini milikku seorang. Kalian main dengan berdua saja,"

perintah Adi dengan nada penuh kekuasaan. Teman-temannya menurut

dan meninggalkanku. Rudi dan Parjo kemudian sibuk bercinta di

hadapanku. Tanpa malu, mereka saling berciuman mesra bak sepasang

kekasih. Tangan mereka saling meraba dan erangan nikmat pun

terdengar. Kontolku semakin ngaceng melihat perbuatan mesum mereka.

Adi yang sudah tak sabar langsung memalingkan wajahku dan

menciuminya dnegan bernafsu. Bibirnya terkunci dengan bibirku dan

kami mulai saling menjelajahi isi mulut kami. Lidah kami, seperti

ular, saling menjulur masuk, dan terkadang saling bergulat. Air

liur kami bercampur menjadi satu. Bagi orang lain, hal ini mungkin

dianggap jorok, tapi tidak bagi kami yang sedang dilanda nafsu

birahi. "hhhohh...hhhoohh...hhhohhh..." desah Adi, meremas-remas

pantatku.

"ooohhh... Mas Adi.... Hhhoohhh.... Enak sekali," desahku. "Mas

merangsang.... Uuugghh... kontol saya... hhohsshhh.... Saya ingin

bercinta.... Hhhoosshhhh..." desahku seperti seorang pelacur.

"...ngentotin saya Mas...hhhoohh... tolong Mas..."

"Nanti dulu sayang... hhhohhh... Mas Adi minta disepong dulu....

Hhhoohh... ayo donk.... Sepong kontol Mas Adi dulu yah? ...

hhhohh... lalu Mas bakal mengobok-ngobok... aaahhh... lubangmu

dengan...hhhohhh kontol Mas Adi.... Hhhoohhhh..." bisik Adi seraya

meremas-remas dadaku. Aaaahhh... nikmat sekali remasan tangannya

itu... hangat... keras... dan bertenaga. "Ayo.. sedot kontol Mas

Adi donk..." desaknya.

Bagaimana saya dapat menolak permintaan montir tampan itu? Meskipun

saya sama sekali belum pernah mencicipi kontol, saya bersedia

mencobanya. Apalagi kontol Adi sungguh indah dan enak dipandang.

Kontolnya disunat dengan rapi, tak terlihat bekas jahitan,

seolah-olah dia terlahir tanpa kulup. Kepala kontolnya seperti helm

baja, mengkilat-kilat, dan berwarna kemerahan. Denyutan-denyutan

kontol itu membuatnya seperti hidup. Sesekali, setetes precum

keluar dari lubang kontolnya. Dengan patuh, saya berlutut di

hadapannya. Tak ada keraguan sedikit pun dalam diriku ketika saya

memegang bantang kontolnya itu. Nampak Adi tersenyum dan

mendukungku untuk memulai oral servis. Kagum akan kontolnya itu,

saya menciumi kepala kontolnya terlebih dahulu dan menjilati habis

cairan precumnya itu. Mmmm... asin-asin tapi lezat... Saya

ketagihan precum Adi dan ingin lebih banyak lagi. Kontol itu

kukocok-kocok dan kuremas-remas. Beberapa tetes precum mengalir

keluar dan langsung kusedot habis.

Namun itu belum cukup sama sekali. Maka saya pun memasukkan kontol

Adi ke dalam mulutku dan mulai menghisap. Hisapanku memang agak

sedikit canggung, tapi saya berusaha untuk menyenangkannya. Saya

menganggap kontolnya seperti sebatang sedotan besar yang harus

kusedot agar cairan itu masuk ke mulutku. Dan lama-kelamaan,

nampaknya Adi sangat menikmati sedotanku itu. Dia mulai

mengerang-ngerang dan meremas-remas bahuku. Saya hanya dapat

mengeluarkan suara SLURP! SLURP! SLURP! Karena keasyikkan menyedot

kontol itu. Selama itu, celana dalam putihku masih kupakai dan

kontolku terasa sesak sekali di dalamnya. Tentu saja precum-ku

sudah membanjir keluar. Tepat di bagian tengah di depan celana

dalamku, nampak noda cairan precum yang mulai melebar. Adi

melarangku untuk melepasnya. Katanya lebih seksi. Saya hanya

menurut saja, meskipun saya ingin sekali telanjang bulat agar saya

dapat segera mencoli kontolku itu.

Tak jauh dari tempatku, Parjo sedang bersimpuh di depan Rudi sambil

menghisap kontolnya. Kontol Parjo sendiri ngaceng berat dan sibuk

dikocok-kocok olehnya. "hhhoohh... hhhhoohhh... hhhooohh..." Rudi

terus mendesah-desah sambil mencubiti putingnya sendiri. Sementara

Parjo tak dapat berkata apa-apa. Hanya suara lidah dan sedotannya

saja yang terdengar SLURP! SLURP! SLURP! Nafsu birahiku semakin

memuncak menyaksikan tingkah bejat mereka. Dalam benakku, saya

membayangkan ketiga monntir tampan itu pasti sering berpesta seks

sejenis di bengkel mesum itu. Untuk sesaat, saya berharap bahwa

saya pun seorang montir seperti mereka :) agar saya dapat mencicipi

tubuh mereka setiap hari kerja.

Tiba-tiba, Adi mulai menyodokkan kontolnya. Tentu saja saya agak

kaget sebab saya belum siap. Telingaku dijadikan pegangan dan Adi

mengentotin mulutku dengan penuh semangat. Pada saat itu, saya

berhenti menghisap dan hanya membuka mulutku saja, membiarkannya

menyodomi mulutku. Kontolnya dengan membabi-buta menyerang dinding

dalam mulutku dan bahkan menghajar anak tekakku. Alhasil, saya

hampir muntah, tapi tidak jadi. Dikuasai nafsu, Adi terus menyodomi

mulutku. Sodokan kontolnya terasa begitu keras sampai-sampai

kepalaku selalu terdorong ke belakang. "hhhooh... aaaahhh....

Oooohhh.... Aaaahhh...hhhooossshhh..." Wajah Adi nampak serius

sekali, keringat membasahinya. Dadanya yang kekar tampak

bergoyang-goyang sedikit. Kedua putingnya melambai-lambai ke

arahku. Ah... sungguh pemandangan yang merangsang kontol.

Tiba-tiba, Adi menjerit. "AAARRGGHHHH...!!!!" Kontolnya disodokkan

sedalam-dalamnya dan sekuat-kuatnya lalu dibiarkan di sana. Kontol

itu langsung melar, berdenyut-denyut, dan meledak. CCRROTT!!!

CCRROOT!!! CCRROOTT!!! Pancaran pejuhnya memenuhi mulutku dan

langsung kutelan. Sungguh lezat sekali, belum pernah saya mencicipi

minuman seenak itu. "UUUGGHH!!! AAAHHH!!! OOOHHH!!!" Adi memegangi

kepalaku kuat-kuat sementara tubuhnya terguncang orgasme. Saat

semuanya usai, Adi yang tampan itu nampak letih sekali, namun

kontolnya masih ngaceng.

Sementara itu erangan-eranagn keras juga terdengar dari pasangan

bejat Rudi dan Parjo. Nampak Rudi menengadahkan kepalanya ke

belakang, membuka mulutnya lebar-lebar, mata terpejam, tubuhnya

menggeliat-geliat, dan kontolnya menyemprot tak karuan di dalam

mulut Parjo. CCRROOTT!!! CCRROOTT!!! CCCRROOTT!!!!

"AAAAARRRGGGHH!!!... AAARRGGHH!!!... AARARRGHH!!!..." erang Rudi

saat dia sibuk menghabiskan persediaan pejuhnya. Saya menjilati

bibirku, berharap saya juga dapat mencicipi pejuh milik Rudi.

Adi menciumiku dan meremas-remas kontolku. Saya sedikit frustasi,

kenapa dia tak membiarkanku melepas celana dalamku saja? Sambil

menepuk pantatku yang padat, Adi berkata, "Tungging'in pantatmu."

Saya bingung tapi menurut saja. Saya yakin mereka takkan

menyakitiku. Mereka itu hanya ingin ngentot denganku saja. Lalu

saya merasakan benda tajam menggores celana dalamku, tepat di

bagian pantat. SRET! Angin dingin berhembus masuk, menggeletik

anusku. Rupanya, Adi sengaja melubangi celana dalamku agar dia bisa

ngentotin saya tanpa melepas celana dalamku. Saya kecewa sekali

karena saya masih juga tak diizinkan untuk bertelanjang bulat.

"Kamu akan menjadi piala bergilir kami, sayang," bisiknya sambil

mencubiti putingku. AARGGH!!! Tumben, Adi tidak lagi memanggilku

'Anda'.

Rudi cepat-cepat merentangkan sehelai selimut usang di atas lantai

yang kotor dan buru-buru berbaring dia atasnya. Kontolnya yang

ngaceng sengaja dikocok-kocoknya agar ereksinya terjaga. Saya

kemudian didorong ke arahnya. Saya mengerti bagaimana Rudi ingin

mengentotinku. Maka saya merayap ke arahnya dan memposisikan lubang

duburku tepat di atas kontolnya, wajahku menghadap wajahnya. Lalu

pelan-pelan kontol itu pun amblas masuk."AARRGGHH!!!" erang Rudi

saat kepala kontolnya dicekik oleh otot anusku. Saya sendiri juga

mengerang kesakitan saat kontol Rudi memaksa masuk. "UUUGGHHH!!!!"

Adi dan Parjo mengelilingi kami dan menyaksikan pertunjukkan kami

sambil mengocok batang kontol mereka. Suara becek kocokan kontol

mereka bergema dalam ruangan itu.

"AAARRGGHH!!!" erangku ketika kontol Rudi akhirnya PLOP! masuk.

Baru kali ini anusku dingentotin kontol. Tak pernah terpikir bahwa

saya bakal merasakan nikmatnya dingentotin kontol. "AAARRGGHH..."

erangku lagi, memutar-mutar kepalaku. Rasa sakit mendera anusku,

Rudi sementara itu mendorong-dorong kontolnya masuk, menginvasi

anusku. Saya hanya meringis kesakitan sambil berusaha untuk

mengangkat tubuhku sedikit. Namun terasa sulit sekali.

"AAARRRGGHH...!!! UUUGGGHH!!! Sakit, mas... AAAHHH...!!!!"

"...hhhooh...hhohh.. Tahan saja...." Erang Rudi, "Nanti juga...

hhhoohhh enak kok... aaahhhh.... Uuugghhh..." Rudi meraih dadaku

dan meremas-remasnya. "...hhhohh.. saya paling suka... uuuggghh..

dada cowok... hhhososhhh... putingnya kecil...hhhooh... merangsang

sekali... hhhoosshhh..." Keringat mulai membasahi tubuh kami. Gaya

negntot seperti itu sungguh menguras tenaga. Sambil sibuk

mengentotin pantat perjakaku, Rudi menggenggam kontolku yang

terbalut celana dalamku dan mulai mengocoknya dengan kasar. Berdua

kami saling mengerang dan menggeliat-geliat. "AARRRGGHHH...!!!!"

Saya membiarkan diriku dikuasai nafsu jahanam, nafsu antara sesama

lelaki. Namun sungguh nikmat sekali rasanya, tenggelam dalam nafsu

sejenis. Sayaa ingin Rudi menghabisi anusku, menghujamkan kontolnya

sedalam mungkin. "...hhhhoohhh... hhhooosshhh....aaahhh...."

"AARRRGGHH...!!!!" erangku ketika tiba-tiba kontolku berkedut-kedut

dan mulai berkontraksi. Nafsuku yang kutahan sejak tadi akan

meledak sekarang! Kepala kontolku membesar dan memuntahkan pejuh.

CCRROOTT!!! CCRROOTT!!! CCRRROTT!!! Saya mengejang-ngejang dan

menyebabkan kontol Rudi di dalam pantatku ikut mengejang.

"AARRRGGHH!!! UUUGGH!!! OOOHHH!!! AAAHHH..!!!" erangku sat orgasme

menguasai seluruh inderaku. Saya hanya merasakan kenikmatan yang

luar biasa sementara kontol Rudi terus menyodomiku. Celana dalamku

kontan basah semua dengan sperma.

Terpicu orgasmeku, Rudi pun akhirnya keluar lagi, untuk yang kedua

kalinya. CCCRROOTT!!! CCCRROOTT!!! CCCRROOTT!!! CCRROOT!! Tubuhnya

terguncang-guncang dan sodokan kontolnya menghajar duburku tanpa

ampun. "AARRGGHH!!! UUUGGHH!!! HHHOOHH!!! AAHHH!!!" Kami berdua

benar-benar menikmati orgasme kami, sampai pada tetes terakhir.

"AARRRGGhhhhh..."

Dengan lemas, saya mencoba untuk bangkit berdiri. Kontolku mulai

melemas dan bergelantungan, mengeluarkan sisa pejuh. Rudi berguling

ke samping lalu bangkit, masih terengah-engah. Kukira semuanya

telah selesai, namun tiba-tiba Parjo memelukku dari belakang,

kontolnya yang ngaceng terasa sekali bergesekkan dengan pantatku.

"Gantian gue ngentotin loe," serunya. Tanpa membrikanku kesempatan

untuk protes, Parjo langsung menancapkan kontolnya sedalam-dalamnya

dalam lubang duburku. Saya hanya bisa berteriak, "AAARRGGHH!!!!"

Bagaikan binatang buas, Parjo menguasai tubuhku. Gerakan ngentotnya

mula-mula cepat, lalu lambat. Kemudian dia kembali mempercepat

sodokannya, lalu melambat, begitu seterusnya. Saya hanya

menjerit-jerit saat tiba pada ritme cepat, sedangkan ketika measuki

ritme lambat, saya hanya mendesah saja. Parjo memang ahli

mengendalikan ejakulasinya. Gaya ngentotnya yang unik terbukti

ampuh untuk menahan laju orgasmenya. Dingentotin Parjo, membuat

kontolku bangkit kembali. "...hhhoohh... aaahhh.... Hhhoossshhh..."

desahku ketika Parjo melingkarkan tangannya di sekitar batang

kontolku dan mengocok-ngocoknya. Benar-benar nikamt sekali dikocok

sambil dingentotin.

Kata-kata kasar keluar dari mulutnya, "...aaahh... ooohh...

bangsat!... ooohhh fuck you!....hhohhh... ngentot loe!....

hhhohhh... kontol!.... aahhh... pejuh!... aaahh... enak banget....

Hhhoohhh... gue suka ngentotin... aaahhh... cowok Cina kayak loe...

hhhoohh.... Udah putih, mulus lagi... hhohh... homo

lagi....aahhh..." Selama bermenit-menit, dia terus meracau seperti

itu. Suara yang hampir mirip suara tamparan dihasilkan dari

tertumbuknya pantatku dengan tubuhnya, tiap kali Parjo menyodokkan

kontolnya. "AAARRRGGGHHH!!!!" teriaknya, dan tiba-tiba CCRROOTT!!!

CCRROOTT!! CCRROOTT!!! CCRROOTT!!!" Pejuhnya muncrat tak

terkendali, membasahi anusku. Rasanya di bagian dalam tubuhku sudah

terlalu becek dengan pejuh Rudi dan Parjo. Pejuh mereka saling

bercampur di dalam sana. "AAARRGGHH...!!!! UUUGGHH!!! OOOOHHH!!!

AAARRGGHHH!!!" Parjo terus menggenjot pantatku hingga kontolnya

berhenti muncrat.

Sementara itu, tangannya tak henti-hentinya mengocok dan meremas

kontolku dari balik celana dalamku yang basah itu. Meskipun saya

baru saja 'keluar', nampaknya pejuhku akan kembali dimuncratkan.

"AARRRGGGHHH!!!!" erangku sambil mencengkeram pinggangnya.

CCRROOT!!! CCRROOTT!!! CRROOTT!!! Saat pejuhku tertumpah, tubuhku

kejang-kejang dan bertumpu pada tubuh Parjo di belakangku. Dialah

yang dengan sabar memegangiku dan menahan gejolak orgasmeku.

"AAHHHH... UUUHHHH... OOOOHHH... HHHOOSSHHH... AAAHHHH..." CRROTT!

Dan usailah semuanya. Celana dalamku berbau tajam dengan sperma,

dan tentunya lebih basah lagi. Begitu Parjo mencabut kontolnya,

pejuhnya mengalir keluar dan turun ke pahaku. Saya masih

tersengal-sengal dan bahkan tak mampu berbicara.

Tiba-tiba Adi mendekatiku dan mulai menciumiku dari belakang. Saya

tahu apa yang diinginkannya. Dia pun ingin menyodomiku. Meksipun

agak ogah berhubung saya sudah dua kali ngecret, namun saya kasihan

juga padanya sebab sorot matanya nampak memohon sekali. Mau tak

mau, saya biarkan Adi menyisipkan kontolnya masuk ke dalam anusku

yang becek. Mudah sekali baginya untuk masuk. Dan terus terang,

saya hampir tak merasakan rasa sakit apa-apa. Mungkin karena anusku

sudah terbiasa, dan mungkin juga karena banyaknya pejuh yang

melumasi lubangku.

Kembali, saya mendaki sebuah perjalanan menuju puncak orgasme. Adi

pun ingin mengocok kontolku. Dia memaksa kontolku yang lemas itu

untuk bangun sekali lagi. Saya hanya memejamkan mataku sambil

menggeliat-geliat. Rasanya nikmat sekali merasakan tangannya

meremas-remas kontolku. Kembali saya memasrahkan diriku dan

membiarkan Adi mempermainkan kontolku. Sementara itu, pinggulnya

sibuk bergerak-gerak seperti piston kereta api, memompa kontol ke

dalam tubuhku. Kontol Adi merupakan kontol yang terbesar di antara

mereka semua. Berhubung pantatku sudah banjir pejuh, Adi merasa

hangat dan basah sekali menusukkan kontolnya di dalam tubuhku.

"...hhhoohhh.... Aaahhhh.... Aaahhhh....hhhhooossshhh..."

Waktu terus berlalu sampai akhirnya saya merasakan gejala ejakulasi

Adi. Tanpa dapat dicegah, Adi menggeram seperti hewan buas dan

kepala kontolnya mengembang. Sedetik kemudian CCRROOTT!!!

CCRROOTT!!! CCRROOTT!! CCRRROOTT!!! "AARRRGGHH!!!!... UUUHHH!!!...

HHHOOOSSHHH!!!.... AAAARRRGGHH...!!!" Adi menumpahkan seluruh pejuh

yang dimilikinya, napasnya berat dan terengah-engah. Kurasakan

lubang anusku kaku dan menganga. Aliran pejuh masih terus saja

mengalir keluar.

Tiba-tiba, tiba giliranku untuk ngecret. Astaga, mereka benar-benar

ingin menguras persediaan spermaku. "AAAGGHH!!!!" Dan seperti biasa

pejuh tersembur keluar dari lubang kontolku, meskipun tidak

sebanyak yang tadi. CCRROOTT!!! CCRROOTT!!! CCRRROOT!! Namun

orgasme yang kurasakan tetap nikmat. "AAAHHHH!!... OOOOHH1!!...

UUUHH!!!" clana damku sudah tak sanggup lagi menampung spermaku.

Sperma itu pun akhirnya menyerap keluar dan jatuh ke atas lantai,

menciptakan genangan pejuh di sana-sini. Setelah itu, tubuhku

melemas dan Adi harus memapahku. Tak terkatakan betapa letihnya

saya. Anusku menganga lebar, dan menumpahkan semua pejuh yang

tersimpan di dalamnya. Tak ayal lagi, lantai bengkel itu hampir

banjir dengan sperma. Bau seks begitu terasa dan menusuk. Kami

semua berbaring di atas handuk saling berpelukkan. Saya menjadi

pusat perhatian dan berbaring diapit di antara Adi dan Parjo.

Adi nampaknya suka sekali padaku. Tak henti-hentinya dia

menciumiku dan meraba-raba sekujur tubuhku. Selama itu, celana

dalamku masih juga belum dilepaskan padahal celana dalam itu sudah

basah sekali berlumuran sperma. Tanpa perlu dijelaskan, kalian

pasti sudah tahu bahwa tubuh kami semua masih dipenuhi keringat dan

pejuh. Namun, kami tak peduli dna tetap saling berpelukkan. Adi

menciumiku dan berbisik, "Tau gak, sebenarnya papamulah yang

mengatur semua ini."

"Apa?" tanyaku tak percaya. Namun saya masih lemas sekali.

"Benar. Papamu itu langganan setia kami dan kami sering berhomoseks

bareng-bareng. Dia hanya ingin kamu pun merasakannya agar kalain

berdua nanti bisa saling negntot," jelas Adi, tetap memelukku

mesra.

Ternyata papaku cabul sekali. Dia bahkan tega meminta 3montir seksi

ini untuk mengambil keperjakaanku. Tapi tak apa. Saya sendiri kini

sudah yakin akan homoseksualitasku. Nanti, setibanya saya di rumah,

papaku akan merasakan akibatnya. Saya akan mengentotin pantatnya

sampai dia minta ampun. Aaahhh... tunggu saja, Pa.

TAMAT



Taruna Angkatan Laut

By Homo

submitted January 11, 2004
Translate from:
To
Text Size:

Cerita di bawah ini FIKTIF belaka, hasil imajinasi mesumku. Meski memakai tokoh 'saya', cerita ini berdiri sendiri, tak ada hubungan dengan cerita-ceritaku yang lain di MOTN. Khusus untuk cerita ini, setting dan tokohnya ASLI, namun cerita ini TAK PERNAH TERJADI :( Silahkan kirim komentar dan ide. Bagi yang ingin kenalan, silahkan juga. Pasti saya balas! :) Webpage-ku www.geocities.com/brycejlover/profileindo.htm.

By Endy

(M/M/M-oral-anal)

Aku kembali mengunjungi warnet Ampera7 untuk memuaskan nafsu homoseksualku. Siang hari, banyak pria gagah berkumpul di warnet itu. Mereka adalah para . Ada yang badannya sangat tegap bak seorang binaragawan, tapi ada pula yang badannya agak tambun. Belakangan ini, aku demam menonton tinju dan fighting. Terutama kalau yang bertanding itu para bule yang berbadan keras. Aku tidak suka kekerasan, namun aku suka melihat tubuh atletis para pria yang sedang bertarung. Ah, sangat jantan dan maskulin.

Siang itu, saat aku asyik melihat foto-foto seksi Mirko Cro Cop (petarung Kroasia K-1) yang sedang bertarung telanjang dada, aku dikejutkan oleh seorang taruna yang kebetulan sedang menemani temannya di warnet itu. Mereka duduk tepat di sebelahku. Pria itu berkata, "Anda suka fighting, yach?" Aku hanya tersenyum malu, diam-diam mencuri pandang. Pria itu mengenakan seragam angkatan laut, tanpa topi. Kulitnya sawo kecoklatan. Wajahnya menunjukkan usia 30an itu nampak ramah. Badannya memang tidak kekar, sedikit berlemak, namun tidak gemuk. Dia memang tidak tampan, tapi juga tidak jelek. Biarpun begitu, tiba-tiba aku menjadi bergairah sekali.

Temannya jauh berbeda dengannya, lebih muda (20an). Tubuhnya lebih langsing namun terlihat padat. Wajahnya sangat tegas dan juga tampan. Melihatnya saja sudah melambungkan imajinasiku ke langit ketujuh. Apalagi kalo diajak bercinta. Perkenalan lebih lanjut membuatku mengetahui bahwa nama pria yang menyapaku tadi adalah Iwan. Sedangkan temannya itu Bram. "Mau gak mampir ke tempatku?" tawar Iwan, tersenyum ramah. "Aku punya banyak foto petarung di komputerku. Kamu pasti suka." Tangannya diletakkan di atas punggungku, membuat jantungku berdebar tak karuan. "Mau banget," jawabku. Diam-diam, penisku mulai tegang, setegang baja.

Singkat cerita, aku pun diajak Iwan dan Bram ke kamar asrama mereka. Banyak taruna ganteng dan gagah yang berlalu lalang. Kemaluanku menjadi semakin tegang dan mulai mengucurkan precum. Di dalam kamarnya, Bram menghempaskan dirinya ke atas ranjang bertingkat bagian bawah. Dengan cueknya, Bram melepaskan pakaiannya dan tidur dengan hanya mengenakan celana dalam putih. Keringat mengucur deras dari sekujur tubuhnya. Nampaknya Bram benar-benar kepanasan. Sekilas, aku mengintip tubuhnya yang mengkilat dengan keringat. Ah, seksi sekali... penuh dengan otot...

"Endy? Lagi ngapain kamu?" tanya Iwan, membuyarkan lamunanku. "Kok dari tadi asyik mandangin badan Bram? Suka yach?" godanya, sambil mencolek pinggangku. Aku terkejut sekali saat Iwan mencolek pinggangku. Untuk sesaat aku mengira kalau dia juga gay, sama sepertiku. Namun, aku segera menghapus pikiran itu, sebab mereka nampak sangat 'straight'. Tanpa menunggu jawabanku, Iwan menyalakan komputernya dan memintaku untuk duduk di depannya. Sesaat kemudian, dia sibuk memperlihatkam foto-foto para petarung lain yang tak kalah ganteng dan kekar dari Mirko Cro Cop. Aku semakin terangsang dan mulai duduk dengan gelisah. Tanpa kusadari Iwan bergeser ke belakangku sambil memencet-mencet keyboardnya. Tangan kirinya diletakkan di atas bahuku, meremas-remasnya dengan lembut. Aku menjadi mabuk kepayang dibuatnya.

"Aku punya gambar-gambar yang lebih bagus dari ini. Mau lihat?" tanyanya. Aku mengangguk saja. Lalu Iwan membuka sebuah folder yang berjudul Cowok. Apa yang kulihat berikutnya membuatku terkejut sekali. Di depan layar komputer, berbaris foto-foto cowok bule bugil. Ada yang berpose telanjang bulat, ada yang berciuman dengan sesama pria, bahkan ada yang saling menyetubuhi pria lain. Jantungku berdebar kencang sekali. Iwan segera menjawab, "Ya, aku gay. Aku ingin berhubungan seks denganmu, manis." Iwan mencium-cium leherku dari belakang. Kedua lengannya yang besar dan kuat menglingkari pundakku. Tangannya menjalari dadaku, meremas-remasnya. Tanpa dapat ditahan, aku mengerang kenikmatan. Aku hanya dapat pasrah, menyadari bahwa sebentar lagi Iwan akan mengambil keperjakaanku. Namun aku tak dapat menyangkal kalau aku amat mengharapkannya.

Tangan Iwan pun mulai menjalar dengan liarnya. Sambil membimbingku berdiri, Iwan mulai memasukkan tangannya ke dalam celana pendekku. Alangkah terkejutnya Iwan mengetahui kalau aku tak memakai celana dalam. Sambil tetap memelukku dari belakang, dia memberikan sebuah senyuman mesum padaku. Mudah baginya untuk menemukan alat kelaminku. Begitu dia menyentuhnya, aku mengerang makin liar. Senjataku sudah mengeras dan membasahi celanaku. Satu-persatu, pakaianku jatuh ke lantai. Dengan lembut, dia memutar tubuhku agar aku menghadap mukanya. Aku kini sudah berdiri telanjang bulat di depannya. Iwan tersenyum sensual sambil menjilat bibirnya. Katanya, "Aku paling suka cowok Chinese yang putih mulus sepertimu. Cocok sekali untuk dingentotin." Iwan nampaknya tak mau berbasa-basi lagi sebab dia segera menanggalkan pakaiannya. Dengan bernafsu, Iwan memelukku. Pelukannya membuatku liar sehingga aku dengan leluasa meraba-raba punggungnya. "Mau tidak 'dipakai' ?" tanyanya sambil memelintir kedua putingku. Aku mengangguk.

Kemudian, terbuai dalam suasana erotis, aku menciumi sekujur tubuhnya, mulai dari leher, turun ke dadanya. Ah.... Aku amat memujanya... Dada milik Iwan memang tidak terlalu keras dan berotot, namun lumayan seksi. Kedua putingnya yang tadi tertidur, kini mulai mengeras seiring dengan permainan lidahku. Sesaat kemudian terdengarlah erangan merdu dari bibir Iwan. Usai menjilati dadanya, aku bergerak menuruni perutnya dan tiba di kemaluannya. Sungguh merupakan kontol terseksi yang pernah kulihat. Panjangnya hampir mencapai 20cm dengan ketebalan yang nyaris melampaui 5cm. Terbakar oleh nafsu birahi, kontol itu berdenyut keras sekali, seolah menuntut servis dariku. Cairan pra-ejakulasinya mulai mengalir dan menetes ke atas lantai. Dengan sigap, aku menangkapnya dengan lidahku. Hmm... sungguh lezat sekali. Iwan hanya tersenyum meyaksikan ulahku. Kontol Iwan memang nampak lezat sekali. Dengan saus pra-ejakulasi yang terus mengalir turun. "Ayo, sayang, hisap kontolku," ujarnya seraya mengelus-ngelus dadaku. Kemaluanku sendiri tegang sekali, minta dipuaskan.

Sambil berlutut, aku menjilati batang kejantanannya dengan antusias. Erangan nikmat Iwan terdengar kencang sekali. Namun dalam suasana erotis seperti itu, hal itu tidak dipedulikan sama sekali. Yang penting, hasrat semua pihak terpuaskan. Kubuka mulutku lebar-leabr dan membiarkan kontol Iwan menerjang keluar masuk. Sesekali aku tersedak namun dengan sigap, aku dapat kembali mengikuti irama sodokan kontolnya itu. "...aarrgghhh..." erang Iwan, matanya terpejam rapat. Cairan pra-ejakulasi Iwan terasa bagaikan cairan ternikmat di dunia. Rasanya agak asin dan terasa licin di lidah. Iwan memang sungguh merupakan seorang pejantan, sebab cairan itu mengalir tanpa henti. Seperti bayi yang menyusu, aku terus menghisap kepala kontolnya demi mendapatkan cairan itu lebih banyak. Aku memperkuat sedotanku dan Iwan pun mengerang keenakkan.

Asyik memeras kontol Iwan dengan bibir dan lidahku, aku tak menyadari bahwa seseorang sedang berdiri di belakangku. Aku baru tersadar saat orang itu membelai-belai punggungku. Ternyata orang itu adalah Bram. Dari sudut mataku, aku mengintip dan mendapatkan Bram telah telanjang bulat. Kontolnya tegang, basah, dan meninggalkan noda di lantai. Sejujurnya, Bram jauh lebih ganteng dan berotot dibanding Iwan, namun Iwan sendiri memiliki aura kelaki-lakian yang tak dapat kutolak. Bram menggosok-gosokkan kontolnya ke punggungku, sambil berciuman dengan Iwan. Sesaat kemudian, Bram bergeser, mendekat pada Iwan sehingga kontolnya berada tepat di depan mulutku yang penuh dengan kontol Iwan. Bram memukul-mukulkan kontolnya yang berliur itu ke pipiku. Mau-tak mau, aku melepaskan kontol Iwan dan menggantikannya dengan kontol Bram.

Pada dasarnya, kontol mereka kelihatan hampir sama. Namun, kontol milik Bram nampak lebih besar. Mungkin Karena pemiliknya adalah pria yang berotot. Begitu kontol Bram mendarat dalam mulutku, aku langsung dihadiahi dengan berliter-liter cairan kelaki-lakiannya. Aahh... enak sekali... Aku menyedot, menghisap, menjilati, dan menggigit kontolnya. Aku mengkhayalkan kontol mereka berada di dalam liang duburku secara bersamaan.... Pasti akan terasa asyik sekali... Seolah-olah dapat membaca pikiranku, Iwan berkata, "Sabar saja, sayang. Nanti kamu akan mendapatkan kedua kontol kami di dalam pantatmu." Iwan mengocok-ngocok kontolnya sambil menikmati caraku menghisap kontol temannya itu. "Kami akan mengisi perutmu dengan sperma kami, sampai kamu kebanjiran. Kamu mau kan?" Saya hanya mengangguk sambil terus menikmati kontol terlezat yang pernah kuhisap. Menghisap kontol memang hobiku. Daripada menghisap rokok, lebih baik menghisap kontol. Lebih enak, segar, dan sehat.

Bram nampaknya larut dalam hisapan mautku. Sambil mengerang tertahan, dia memejamkam matanya rapat-rapat dan terus memaju-mundurkan kepalaku. ".... Aarrgghhh.... Yeah... hisap terus kontolku.... Yeah.... Seperti itu... lebih kuat lagi, sayang.... Aarrgghh...." erangnya. Aku terus menghisap batang itu dengan bersemangat. Sesekali, aku meraba-raba pelernya dan juga dada bidangnya yang perkasa. Aahhh.... Iwan yang tak mau ketinggalan, menggosok-gosokan cairan pra-ejakulasinya ke mukaku. Aku tahu keinginannya. Maka dengan adil, aku menghisap kontol mereka berdua secara bergilir. Sementara aku menghisap kontol Iwan, tanganku mengocok-ngocok penis Bram. Dan begitu sebaliknya. "AArrgghh..."

Tiba-tiba, Bram menjauhkan kontolnya dariku. Dia berkata, "Saatnya untuk dingentotin." Tangannya menepuk pantatku keras-keras. Jantungku berdebar-debar. Dari dulu memang saya sering membayangkan nikmatnya disodomi, namun aku belum pernah mencobanya. Bagai domba yang digiring, saya digiring ke tempat tidur. Kedua pria perkasa itu akan segera merenggut keperjakaanku. Iwan membaringkan tubuhku ke atas ranjang dengan mesra sambil tetap menciumi bibirku. Tubuhku terbaring telentang dengan kedua kaki terkangkang lebar-lebar sementara Iwan berdiri tepat di pertengahan selangkanganku. Bram berdiri di samping ranjang dan segera mendorong kepala penisnya masuk ke dalam mulutku. Dengan lahap aku menghisap batang itu kembali. Aahh, nikmatnya. Cairan pra-ejakulasi tak henti-hentinya mengalir keluar dari lubang kencing milik Bram.

Dengan penuh nafsu, Bram meremas-remas dadaku sambil mengeluarkan kata-kata kotor. "... yeah... hisap kontolku... loe suka kontolku, 'kan? Yeah... hisaplah seperti seorang penghisap kontol yang baik.... Buat gue ngecret di mulutmu... hisap kontolku..." Kontolnya didorong lebih dalam lagi, sampai-sampai kepala kontolnya mengenai dinding kerongkonganku. Kontan saya tersedak, namun Bram tak sudi melepaskanku. Sebaliknya, dia makin bernafsu, seakan-akan senang melihatku tersiksa seperti itu.

Aku hampir kehabisan napas namun tetap berusaha sekuatnya untuk mengikuti ritme sodokan kontol Bram. Sementara itu, Iwan meraba-raba perut dan kemaluanku. Dengan lembut, dia berkata, "Jangan takut, takkan sakit, kok. Yang penting, jangan dilawan. Biarkan saja kontolku masuk. Santai saja." Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu yang besar dan basah sedang berusaha membuka paksa lubang pantatku. Pelan namun pasti, benda itu mulai bergerak masuk ke dalam anusku. Sakitnya tak terlukiskan. Untuk pertama kalinya, bibir anusku terbuka lebar dengan paksa, perih sekali. Aku merasa seakan-akan bibir anusku akan sobek seperti plastik yang terkoyak. "AARRGGHHH...!" tangisku. Namun tangisan and eranganku tak dapat keluar dengan bebas sebab mulutku tersumpal kontol Bram yang besar dan lezat itu. Hanya suara-suara eranan tertahan yang tak jelas yang terdengar.

Akhirnya kepala kontol Iwan telah masuk seluruhnya ke dalam tubuhku. Anusku mencengkeram batang kejantanannya kuat-kuat, tak ingin melepaskannya. Meskipun anusku berdenyut-denyut tak karuan, namun aku sangat menikmatinya. Rasa sakit itu bercampur dengan kenikmatan. Kenikmatan yang kuperoleh dari kontol seorang lelaki. Iwan hanya tersenyum mesum melihat kenikamtan yang jelas tergambar di wajahku. Dia tahu benar seperti apa sifatku. Sifat itulah yang sering dia temukan pada diri semua pelacur. Dia tahu benar betapa aku menikmati keberadaan kontolnya di dalam tubuhku. Setetes cairan pra-ejakulasi menetes di dalam duburku dan mengalir masuk ke dalam ususku. Aku hanya dapat mendesah kenikmatan sambil tetap menghisap kontol Bram.

Tanpa memberi aba-aba, Iwan mulai menggenjot pantatku. Dipompakannya penisnya yang besar itu masuk-keluar, masuk-keluar, masuk-keluar, terus menerus. Semakin lama, pompaannya semakin kuat, seakan ingin menanamkan seluruh batangnya ke dalam tubuhku dan 'menghamiliku' dengan benih-benihnya. Tubuhku berguncang-guncang dengan hebat, seiring dengan sodokan kontol Iwan yang makin bertenaga.

Bram nampak mulai bernafsu. Wajahnya mulai berubah kemerahan, menahan sesuatu. Rupanya Bram sudah berada di ambang orgasme. Sebentar lagi dia akan segera ngecret. "... oh sial... gue mau keluar... aarrgghh.... Yeah.... Telan semuanya... telan air mani gue... TTEELLAANN...!!" Begitu kata TELAN habis diucapkan, kontolnya menggembung besar di dalam mulutku dan mulai menembakan spermanya. CROT! CROT! "AARRGGHH...!!", teriaknya, "...AARRGGHH..!! UUGHH..!! OOHH...!! YEAH!!!... AARRGHH...!! OOHH...!!" Tubuh Bram terguncang-guncnag dan bergetar hebat. Setiap tembakan pejuhnya mengirim listrik bertegangan seribu volt ke seluruh tubuhnya. CROT! CROT!

Iwan yang sedari tadi asyik menggenjot pantatku, rupanya terangsang habis oleh orgasm kawannya itu. Seperti reaksi berantai, Iwan mulai menunjukkan gejala-gejala akan kelaur sebentar lagi. "...aakkhh... aku.... Kkellu... AARGHH...!! UUGGHH..!! OOHH...!! AARRGGHH...!! UUGGHH...!! AARRGHH...!!" Iwan terus-menerus mengerang sambil menembakan cairan kejantanannya, membanjiri ususku. CROT! CROT! CROT! CRET! Aku sendiri terasa penuh, mengerang penuh kenikmatan.

Bram yang masih merem-melek oleh karena orgasmnya yang luar biasa itu langsung memegangkan kontolku dan mengocok-ngocoknya. Tak ayal lagi, aku pun keluar, dalam beberapa detik saja. "...oohh... AARRGHH..!! OOGGHHH...!! AARRGHH...!!" CROT! CROT! CROT! Spermaku bermuncratan ke mana-mana, mengenai tubuhku, tubuh Iwan, ranjang, dan tentunya tangan Bram. Badanku menggelepar-gelepar, lubang anusku mencekik kepala kontol milik Iwan yang masih berada di dalam. Kontol Iwan pun melemas begitu tetes terakhir dari pejuhnya menetes keluar. "AAhhh..."

Iwan jatuh menimpa tubuhku dengan lembut, sambil menyisirkan jari-jarinya pada rambutku. Aku sendiri hanya dapat bernapas terengah-engah, letih tapi puas sekali. Bram tak mau ketinggalan. Setelah mengeringkan kontolnya dengan cara menggosok-gosokkannya pada mukaku, Bram berbaring di ranjang dan memelukku. Kami bertiga saling berangkulan, bermain lidah dan bibir. Air liur kami saling bercampur, namun rasanya nikmat sekali. Tangan Bram and Iwan menjamah tubuhku dan mengusap-usap cairan sperma yang menempel pada badanku. Kurasa, aku mulai jatuh cinta pada mereka berdua...

TAMAT

Budak Seks Pekerja Bangunan 1

By Homo

submitted September 13, 2003
Translate from:
To
Text Size:

by Endy

==================== Cerita ini fiktif belaka, hasil rekayasa dari fantasi mesumku. Cerita ini adalah cerita gay sex berbahasa Indonesia pertamaku. Banyak melibatkan gay seks, pejuh, erangan nikmat, dan juga cowok2x bugil. Buka celana kalian, keluarkan kontol yang menggiurkan itu, santai saja, dan nikmati cerita ini sambil mengocok kontol kalian. Saran, kritik, komentar, atau cuma sekedar ingin berkenalan, silahkan kirim email ke BryceJLover@yahoo.com. Terima kasih :) ====================

Bab 1 : Hak Milik Supri

Sejak masa puber, saya sudah tahu kalau saya berbeda dengan para pria lainnya. Saya menyukai sesama lelaki. Tapi karena saya jarang keluar rumah, saya kurang berinteraksi dengan para pria di luar sana. Sebagai pelampiasan, saya sering masturbasi sambil melihat koleksi foto cowok bugil yang kudapat dari internet, hasil copian di warnet tiap minggu. Fantasi terbesarku adalah diperkosa oleh laki-laki jantan berbadan bagus. Saya tak pernah menyangka bahwa fantasiku akan terwujud sebentar lagi...

Pagi itu, saya sedang berjalan-jalan di sekitar lingkungan tempat tinggalku untuk mencari angin pagi. Seperti biasa, sambil berjalan, kusapukan pandanganku mencari laki-laki ganteng untuk mencuci mata. Sesosok tubuh pria pribumi bertelanjang dada menangkap perhatianku. Tubuhnya terlihat sangat bagus dari belakang. Memang tidak sebagus tubuh binaragawan, namun tetap saja menggiurkan. Pokoknya cocoklah kalau dia memutuskan ingin menjadi model sampul Men's Health Indonesia. Warna kulitnya agak gelap, namun dengan tubuh seseksi itu, dia nampak semakin menarik. Otot-otot punggungnya terbentuk lumayan, nampaknya dia adalah seorang tukang bangunan atau semacamnya. Sesekali, dia menengokkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, tanpa sengaja memberiku kesempatan untuk melihat wajahnya. Nampaknya dia tak terlalu tua, sekitar 30an. Tampangnya sangat jantan, tegas, dan "beringas". Tapi wajahnya lumayan menarik juga. Perlahan-lahan, batang kontolku mulai berdiri. Di dalam otakku yang mesum, kubayangkan nikmatnya diperkosa olehnya. Ooohhh.... Saya lalu memutuskan untuk berjalan tepat di belakangnya. Kapan lagi bisa ketemu lelaki menggiurkan seperti ini? Telanjang dada lagi ;)

Setelah beberapa menit kuikuti, tiba-tiba dia berbelok arah dan masuk ke dalam sebuah gang kecil. Dengan tekad membara, kuikuti dia seperti seorang mata-mata. Gang itu sepi sekali. Tak ada satu pun orang di sana. Semakin kuikuti, saya menjadi semakin takut namun gairahku malah semakin tinngi. Kontolku telah basah oleh "precum" dan cairannya telah membasahi bagian depan celena pendekku yang tipis.

Tiba-tiba, pria itu berhenti. Otomatis, saya berhenti juga. Pada saat dia membalikkan tubuhnya dan memandangku, jantungku serasa ingin lepas. Saya takut sekali. Bagaimana jika dia sampai tahu bahwa saya mengikutinya. Namun pria itu hanya tesenyum. Senyuman itu nampaknya seperti senyuman seorang penjahat. "Mau apa loe ngikutin gue?" Nada bicaranya terdengar agak tak ramah.

Saya hanya terdiam saja. Saat saya tertunduk, kulihat benjolan basah besar di celanaku. "Gawat", pikirku, "dia pasti melihatnya... aduh, bagaimana ini?"

Pria itu mendekatiku. Entah kenapa, saya hanya berdiri terpaku di situ. Saya mulai gemetar ketakutan, namun ketakutanku hanya menambah gairahku. Dalam hatiku, saya berharap dia akan memperkosaku. Saya rela memberikan keperjakaanku padanya.

"Loe suka liat badan gue, yach?" tanyanya setelah mengamati benjolan di celanaku. Tangan kanannya bergerak menyapu dada bidangnya. Dadanya yang agak gelap diremas-remas. Tak ayal lagi, putingnya mulai menegang menjadi sangat lancip.

Gairahku menjadi tak terbendung lagi. Ingin rasanya saya memintanya untuk menyodomi pantatku, namun saya terlalu takut.

"Loe suka ini?" tanyanya lagi, kali ini agak terdengar menantang. Dia berjalan semakin dekat... dekat... dan dekat, hingga akhirnya wajahku hampir menyentuh lehernya (Dia lebih tinggi dibanding diriku). Menundukkan kepalanya sedikit, dia berbisik, "Pengen diperkosa nggak?"

Saya hanya terdiam. Air liurku rasanya susah sekali ditelan.

Tangannya meraih turun dan memegang benjolanku dengan kasar. "Kontol loe pasti bagus. Gue paling suka ama kontol yang gak disunat..." Setelah puas meraba-raba daerah terlarangku, dia meraih resleting celananya. Dengan sekali tarik, resleting itu terbuka dan kepala kontolnya menyembulkan diri untuk memberi salam.

Namun saya menjadi semakin takut. Palkon (kepala kontol) pria itu begitu besar dan ukuran itu hanya ukuran sewaktu masih lemas. Bagaimana jika kontolnya terangsang? Saya mulai berpikir untuk menolak kesempatan ini. Saya memang ingin dingetotin, tapi bukan oleh kontol kuda. Saya bersiap-siap untuk kabur namun dia dapat membaca pikiranku. Sebelum saya sempat bertindak, kedua tangannya telah mencengkeram bahuku dengan sangat kuat.

Sambil menatap kedua mataku dalam-dalam, dia berkata, "Loe gak bakal ke mana-mana. Kalo loe berani kabur tau teriak, gue akan sumpah gue bakal ngabisi nyawa loe dengan kedua tangan ini..." Cengkeramannya dipererat untuk menegaskkan maksudnya.

Saya sungguh tak berdaya. Pada saat dia membawaku ke tempatnya, saya hanya dapat mengikutinya. Tak ada kesempatan untuk kabur karena dia tetap memegangi bahuku. Kontolnya masih bergoyang-goyang di luar resleting celananya, mengikuti irama jalannya. Akhirnya kami sampai di sebuah rumah kumuh, tak jauh dari gang tempat dia menangkapku. Dari luar, rumah itu nampak tak terawat dan agak gelap. Dengan kasar, dia mendorongku masuk. Pria itu ikut masuk, setelah mengunci pintu untuk memastikan saya tak dapat melarikan diri. Rumah itu memang kumuh sekali. Sinar matahari hampir tak dapat masuk. Suasana di dalam rumah kecil itu remang-remang. Lantainya terbuat dari semen halus, ruangannya hanya ada dua, penerangannya tak memadai, jendelanya hanya ada satu, hampir tak ada ventilasi, dan tak ada perabotan selain beberapa meja dan kursi kayu. Saya terhentak. Ruangan ini lebih tepat disebut sebagai ruang tahanan bawah tanah, tempat para tentara menyiksa musuh-mush mereka... Apa yang akan dilakukan pria itu terhadapku, tanyaku dalam hati.

"Buka baju loe," perintahnya. "Cepat!!!" sambungnya, agak kasar dan tak sabaran.

Beberapa saat kemudian, saya berdiri tanpa sehelai benang pun di hadapan pria itu. Kontolku mengeras bak pelat baja. Kolam "precum" terbentuk di atas palkonku yang tertutup kulup. Pakaianku kutaruh di pojok ruangan itu. Pria itu melahap tubuhku dengan tatapan bernafsu. Kontolnya yang masih tergantung di luar mulai hidup. Pelan-pelan namun pasti, kontol itu memanjang, mengeras, dan membesar. Tak lama kemudian, kontol itu telah mencapai ukuran maksimum. Panjangnya kira-kira 25cm. Dan keliling batang kontolnya sekitar 15cm. Sungguh besar kontol yang dia miliki, seperti kontol kuda penjantan. Agar lebih nyaman, pria itu melepas celananya sehingga kini dia pun berdiri telanjang bulat. Tak ada rasa minder sedikit pun di wajahnya. Dia bangga dengan tubuhnya dan juga dengan kontolnya.

"Sini loe." Dengan kasar dan bernafsu, dia menarik tubuhku mendekat padanya. Tanpa memberiku waktu untuk berpikir, dia melumat bibirku sambil merangkul tubuh telanjangku. Kontol kami saling beradu dan cairan kenikmatan membasahi tubuh kami. Untuk sesaat, rasa takutku menghilang. Pada saat saya sedang terbuai oleh kenikmatan sentuhannya, dengan sigap dia merantai tanganku dan menariknya sekuat mungkin. Tubuhku terangkat ke atas. Dia terus menarik sampai akhirnya kontolku berada tepat di depan mulutnya. "Ini yang gue suka... kontol berkulup... mmm..." Kontolku langsung disantap olehnya. Dengan liar, dipermainkannya lidahnya. Saya hanya dapat meronta-ronta kenikmatan sambil mengerang-erang. Bagiku, ini sama sekali bukan pemerkosaan. Namun, saya kemudian menyesal telah berpikir demikian...

Saya hampir saja keluar, namun pria itu menghentikan aksinya, Nampaknya, dia cukup puas dengan "precum" yang kuhasilkan. Rantai yang mengikat kedua tanganku dilepaskannya. Saya langsung dibawa ke sebuah meja kayu dan ditelentangkan di sana. Kedua tangan dan kakiku diikat pada kaki-kaki meja. Khusus untuk kakiku, Supri mengikatnya sedemikian rupa sehingga kakiku ngangkang dan memperlihatkan lubang ngentot yang kumiliki. Iaktannya benar-benar kuat. Saya tak dapat bergerak! Terlentang pasrah di sana menunggu nasib. Nasib seorang budak homo.

"Untuk apa tubuhku diikat seperti ini?" tanyaku, khawatir.

"Untuk dingentotin... untuk apa lagi?" tawanya, bernada mengejek. "Mulai saat ini, loe adalah budak sex gue. Budaknya Supri. Loe musti muasin nafsu seks gue, dan juga ngecret sebanyak yang loe bisa. Gue paling suka liat budak seks gue ngecret dan mengerang kesakitan akibat dingentotin."

Kali ini, saya benar-benar ketakutan. Pria yang bernama Supri ini nampaknya tidak main-main.

Supri berjalan mengelilingi meja sambil meraba-raba tubuhku. Sentuhannya hanya membuatku semakin gila dengan gairah. Dia lalu berhenti di depanku. "Buka mulut loe, homo!" serunya. Tanpa kubantah, langsung kubuka mulutku dengan senang hati. Kontol kuda itu lalu meluncur masuk. Rasanya besar sekali, mulutku serasa ingin pecah. Kepala kontolnya bergerak maju dan mendesak langit-langit mulutku. Cairan asin mengalir keluar dari lubang kontolnya dan masuk ke dalam mulutku. Rasanya nikmat sekali. Namun sebelum saya dapat menikmatinya, Supri menarik kontolnya mundur. Sesaat kemudian, kontol itu bergerak maju lagi, lalu munder, maju, mundur. Dan begitu seterusnya. Untuk mengimbangi kepalaku, Supri memegang kepalaku menyamping agar dia lebih leluasa memperkosa mulutku. Saya hanya dapat mengerang nikmat sambil sesekali tersedak dan hampir kehilangan napas. "Yeah.... hisap terus... aaahhh.... Homo emang paling tau nyenengin cowok...." katanya sambil tersengal-sengal. "... uuugghh.... AAAHHHH... loe adalah budak homo gue.... milik gue seorang... aaahhh.... nikmat sekali.... oohhh yah..... OOOHHHH.... ahhhhh..." Erangan-erangan nikmatnya sebentar pelan, dan sebentar keras. Saya sendiri mulai suka diperlakukan seperti itu. Namun mendadak, Supri semakin panas. Erangan-erangannya semakin keras dan terdengar seperti sedang kesakitan. "AAARRGGHH... OOOHHH... Siap-siap, homo... Pejuh gue mau keluar.... aaahhh.... OOOHHH... Telan ini...!!!... AARRRGGHH...!!! OOOHHH..." Dan dengan itu, kontol Supri pun memuntahkan isinya. Crrooott... crroooot... croooot... Cairan putih kental dan hangat itu membanjiri mulutku. Dengan lahap, kutelan semuanya tanpa sisa. Oooohhh cairan kelaki-lakian Supri memang sangat lezat... nikmat sekali.... "UUGGHHH... aaahhh.... oohhh..." Kontol Supri menembakkan pejuhnya selama kurang lebih sepuluh kali, lalu berhenti. Keringatnya menetes membasahi wajahku. Pria jantan itu lalu mengelus-ngelus wajahku seolah sedang berterima kasih.

Saya tersenyum puas sambil memejamkan mataku. Tak dapat dipercaya kalau saya telah melakukan oral sex dengan pejantan itu. Kukira saya dapat beristirahat, namun tiba-tiba kurasakan tangan Supri menjalar ke pahaku. Sewaktu kubuka mataku, Supri telah berdiri di depan kontolku. Dengan bernafsu, Supri membasahi jari-jarinya kemudian jari-jari basah itu dimain-mainkan di lubang anusku yang masih ketat. Ketika jari-jari itu menekan masuk ke dalam anus, rasanya agak nyeri dan sakit. Apalagi ketika Supri memutar-mutarnya. Katanya, dia perlu melonggarkan sedikit lubang pantatku sebab lubangku terlalu ketat. Lama-kelamaan terasa nyaman dan nikmat. Saya mulai terbuai...

"Aaa!!! Apa itu?!" teriakku. Rasanya luar biasa sakit. Sesuatu yang jauh lebih besar tiba-tiba menghujam masuk. Tersadar olehku kalau benda itu adalah kontol Supri. Ya, tidak salah lagi, pikirku. Benda itu besar dan panjang, hangat, agak basah di bagian ujungnya dan berdenyut-denyut. "AAAhhh...!!! Sakit..." erangku.

"Diam loe, homo! Loe adalah budak seks gue dan loe musti mau gue ngentot. Sebentar lagi, loe udah bukan perjaka lagi..." tawanya riang. "Jarang sekali bisa perkosa cowok homo yang masih perjaka.... aahhh... nikmatnya...." Supri menarik jari-jarinya keluar dan menusukkan kontolnya lebih dalam lagi. Saya mengerang semakin keras. Sakitnya bukan kepalang. Rasanya seperti hendak terbelah dua saja. Lubang pantatku menganga lebar, tersumbat oleh kontol kuda itu. Air mata mengalir dari mataku, saya telah diperkosa oleh Supri. Pada saat itu, saya benar-benar menyesal telah meminta permohonan konyol macam itu, namun sudah terlambat untuk menyadarinya. Supri mulai menggenjot pantatku. Masuk, keluar, masuk keluar... Seiring dengan irama genjotannya, saya menangis dan mngerang. Lubang duburku benar-benar panas dan perih. Saya berusaha untuk berontak namun tali itu mengikatku terlalu kuat.

"AAAGGHH!!" teriakku lagi. "Ampun, bang... aacchhh... sakit... ampun, Bang...." tangisku. "AAACCHH!!!" Namun tangisku tak dihiraukannya. Malah Supri menjadi semakin beringas dan liar.

"OOHHH... lubang loe ketat sekali.... AAAHHHH... lebih ketat dibanding memek... UUGGhh... mimpi apa gue semalam... aahhh... bisa dapatin homo kayak loe.... AAAAHHHH..." sahutnya di sela-sela aktivitas ngentotnya.

Saya terkejut ketika menyadari bahwa saya menikmati rasa sakitku. Rasa sakit akibat diperkosa Supri itu terasa sangat nikmat. Gesekan kontolnya dengan dinding dalam duburku mengirim sinyal-sinyal nikmat ke otak mesumku. Perlahan namun pasti, saya terhanyut dalam irama ngentotnya.

Supri nampaknya mahir sekali dalam urusan ngetot-mengentot. Dia bisa melakukannya dalam ebrbagai versi. Pertama dia bisa melakukannya dengan sangat lambat. Menusukkan kontolnya sampai masukd alams ekali lalu dicabut seluruhnya. Kemudian, kontolnya itu dihujamkan lagi tanpa ampun dan kemudian ditarik lagi. Begitus eterusnya dan semuanya dilakukand alam tempo lambat. Sungguh sakit, menyiksa, namun nikmat bagiku. Kedua, Surpi bisa mengentotinku dengan sangat cepat seperti laju kereta api express. Saking cepatnya, tubuhku terguncang-guncang dan lubangku terasa mulai berdarah. Ketiga, Surpi dapat memutar-mutarkan kontolnya di dalam anusku. AAAHHHH.... nikmatnya....

"aaahhh.... homo.... ooohhh... ngentot.... AAARRGHHH..!!!! nikmatnya.... aaahhh..." erang Supri. Sekujur tubuhnya bsah dengan keringat. Rambutnya pun basah. KEringatnya jatuh membasahi tubuhku yang juga mulai berkeringat. Sisa pejuhnya yang tadi dia keluarkan sedikit terlumur di badanku.

"...lagi, Bang.... lagi..." mintaku, terengah-engah.

"Wow, lihat ini... budak homoku akhirnya menunjukkan kulit aslinya.... aaahhh... gue tau.... loe pasti suka.... ooohh... dientotin ama kontol gue.... ngentot!..... ARRRGHHH..." Supri kemudian memegang kontolku yang telah banjir dengan "precum"ku dan mulai mengocoknya. Kontolnya masih terus memompa tubuhku. "ngecret, ngecret, ngecret..." ulangnya berkali-kali, seperti mantra. "OOOHHH!!!"

Saya tidak kuat lagi. Saya harus ngecret. SAya harus mengeluarkan pejuhku.... Pejuh seorang homo... "AAARRGGHHH...!!!! OOOHH!!!... AAAHHHH!!!... UUUGHHHH!!!!... OOOHHHH!!!!" Saya terus mengerang-erang seperti orang kesetanan. Tubuhku menggelepar-gelepar seperti tersengat listrik, tersengat orgasme hebat. Mengalami orgasme hebat sambil terikat di meja dengan sebuah kontol super di dalam pantat rasanya NIKMAT sekali!!! AAARRRGGHH...!!!! Pada saat yang sama, Supri pun berorgasme.

Begitu saya ngecret, lubang duburku menutup secara refleks dan mencekik kontol Supri. Kontan saja, kontol itu pun menyerah dan memuntahkan laharnya untuk yang kedua kalinya Crot!!! Crot!!!! Crot!!!! "AAARRRRGGGHHHH!!!!!!!....." Dengan jeritan yang keras sekali, seperti lolongan serigala yang terluka, Supri pun ngecret. Badannya mengejang-ngejang dengan dahsyat. Pejuhnya, seperti air bah, membanjiri lubang ngentotku. AAhhh.. hangat... Tubuh kami berdua dikuasai oleh setan orgasme dan setan nafsu seks. Saya baru pertama kali itu mengalami orgasme yang sedemikian hebat.

Akhirnya orgasme itupun usai. Supri menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhku. Pejuh yang kusemprotkan menodai perutku dan perutnya. Rasanya enak sekali ditimpa oleh pria segagah Supri. Afterplay kami diisi dengan tidur-tiduran seperti itu selama beberapa menit. Setelah Supri berhasil mengumpulkan tenaganya kembali, dia bangun dan menciumiku dengan mesra. Kontolnya telah melemas di dalam anusku dan tergelincir keluar dengan sendirinya. Pejuhnya yang bersarang di dalam anusku juga ikut mengalir keluar seperti tetesan air keran.

Supri pun berkata, "Mulai saat ini, loe adalah budak gue. Kapan pun gue panggil, loe musti datang. Kalo nggak, gue bakal beberin semuanya ke orang se-RT biar semua tau loe homo." Lanjutnya lagi, "Loe musti bersedia nyedot kontol gue, minum pejuh gue, dingentotin gue, dan juga ngelakuin apapun yang gue suruh. Ngerti?"

Saya hanya mengangguk lemah.

"Loe adalah homo gue. Hak milik Supri. Gak boleh ada cowok lain yang ngentotin loe, kecuali gue yang suruh. Mengerti?"

"Ya, Bang," sahutku lemah.

Tepat pada saat itu, pintu rumah Supri digedor-gedor oleh seseorang. "Supri! Bukain dong. Ini kami," teriak seseorang.

"Wah, kebetulan, nih," seru Supri kegirangan. "Saatnya mamerin budak homo gue ke temen-temen gue." Supri bergegas membuka pintu. Namun sebelumnya, dia berpaling padaku yang masih terikat telanjang berkeringat dan berpejuh dan berkata, "Bersiap-siaplah, karena pesta akan segera dimulai" ...

(bersambung) ===============

Bagaimana nasibku selanjutnya? Apakah saya sanggup melayani semua teman Supri? Apa saja yang akan mereka lakukan padaku? Nantikan saja bagian 2 dari Budak Seks Pekerja Bangunan yang berjudul Pesta Seks. Yang pasti, lebih seru, lebih panas, dan lebih banyak gay seks.

Jakarta, 28 Desember 2002 Copyright 2002 Endy

2 Abang Tukang Bangunan

By Homo

submitted January 8, 2004
Translate from:
To
Text Size:

Cerita di bawah ini FIKTIF belaka, hasil imajinasi mesumku. Meskipun memakai tokoh 'saya', Cerita ini berdiri sendiri, tak ada hubungan dengan cerita-ceritaku yang lain di MOTN. Silahkan kirim komentar dan ide. Bagi yang ingin kenalan, silahkan juga. Pasti saya balas! :) Webpage-ku www.geocities.com/brycejlover/profileindo.htm.

By Endy

M/M/M-double fuck

Sejak masa puber, saya telah menyadari homoseksualitasku. Di mana saja dan kapan saja, saya selalu memuaskan pandanganku dengan menikmati tubuh indah para lelaki. Diam-diam saya berharap bakal ada pria homo yang menyadari keberadaanku dan mau ngentotin lubang pantatku yang ketat dan menikmati kulitku yang putih mulus. Kebetulan, orangtuaku sedang menyewa para tukang bangunan untuk meninggikan lantai. Rumahku memang langganan banjir dan sudah saatnya untuk mengakhiri semua itu dengan meninggikan rumah. Maka sejak hari Senin, rumahku selalu penuh kesibukan. Berhubung orangtuaku kerja, maka saya selalu diminta menjaga rumah. Tentu saja saya setuju!

Sejak jam 8pagi, dua orang pekerja bangunan sedang sibuk memulai pekerjaannya. Tampang mereka jantan sekali. Meskipun kulit mereka agak gelap akibat sinar matahari, namun mereka terkesan macho sekali. Nama mereka Ujang dan Udin. Ujang lebih tua, sekitar tigapuluhan sedangkan Udin lebih muda. Nampaknya mereka teman baik. Diam-diam, saya sering mengintip mereka bekerja. Kunikmati tubuh telanjang mereka yang berotot and berkilauan akibat keringat yang tertimpa cahaya matahari. Aaaahh... Andai saja saya dapat meraba tubuh mereka. Lalu sebuah ide mesum muncul di benakku. Kebetulan, mereka sedang beristirahat di teras samping, tepat di luar kamarku sambil bercanda dan minum kopi. Tak susah bagi mereka jika mereka ingin mengintip jendelaku.

Maka saya pun menelanjangi diriku dan berbaring di ranjangku. Kontolku sudah menegang duluan, membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya. Kuambil Men's Health Indonesia edisi Januari 2004 di mana aktor tampan Marcelino Lefrandt berpose telanjang dada. Sambil memandangi wajah Marcelino dan juga tubuhnya yang berotot, saya mulai memainkan kontolku. Sengaja kusuarakan erangan tertahanku agar Ujang dan Udin mendengarnya. "....aaahhh.... oooohhh....mmmm... uuuhhhh... hhoohhh..." Dan mereka mendengarnya!

Dari sudut mataku, saya mengintip ke arah jendela. Ujang dan Udin, dengan mulut ternganga, memandangiku lekat-lekat. Sengaja kumiringkan majalah Men's Health agar mereka dapat melihat objek fantasi mesumku. Kudengar Ujang berbisik, "Gile banget! Dia homo, Din. Lihat aja, masak dia coli sambil liatin foto cowok." Tapi beberapa saat kemudian, mereka menghilang. Saya kecewa sekali, tapi berhubung tanggung maka saya meneruskan masturbasi.

Tiba-tiba pintu kamarku terbuka lebar-lebar. Di sana berdirilah Ujang dan Udin. Keduanya telah bugil dengan tubuh masih bersimbah keringat. Untuk pertama kalinya, saya berkesempatan untuk melihat kontol mereka yang tegang berdiri. Panjangnya sekitar 15cm, cukup lumayan untuk kontol cowok macho. Kepala kontol mereka yang ungu kemerahan menatapku dengan tajam. Tanpa bicara, mereka berdua mendekatiku dan naik ke atas ranjangku. Udin mengambil Men's Health dari tanganku dan membuangnya ke atas lantai sambil berkata, "Loe gak butuh cowok di majalah buat muasin loe. Loe cuman butuh kami berdua."

Jantungku berdegup kencang, gugup sekali. Namun saya juga amat senang karena rencanaku berhasil. Ujang mengusap-ngusap dadaku dan meraba-raba tubuhku. Di matanya jelas terpancar nafsu birahi yang menggebu-gebu. "Loe putih dan mulus. Gua paling suka cowok Cina." Ujang memiringkan kepalanya lalu memaksakan sebuah ciuman pada bibirku. Tentu saja saya tak menolaknya. Dengan nafsu yang tak kalah besar, saya menciuminya. Berkat tontonan VCD gay porno, saya tahu cara mencium seorang pria. Dengan nafsu, kulumat bibir bawahnya dan kupaksakan lidahku masuk. Ujang pun nampaknya ahli dalam berciuman. Begitu bibirnya menangkap lidahku, tanpa ragu, dia langsung menyedotnya. Aaahhh nikmat sekali. Tidak ada rasa jijik sedikit pun meski saya harus bertukar air liur dengan Ujang.

Sementara itu, Udin memposisikan kepalanya agar dia dapat menghisap kontolku. Berhubung kontolku tak disunat, dia harus menarik kulit khitanku ke bawah terlebih dahulu. Kepala kemerahan yang basah dengan precum pun muncul. Sebutir precum nampak menyembul keluar dari lubang kencingku yang sempit. "Mmmm... seksi sekali," Udin berkomentar. Lalu dengan lahapnya, kontolku ditelannya dalam-dalam. Saya hanya dapat mengerang keenakkan saat kurasakan kepala kontolku yang amat sensitive bergesekkan dengan dinding dalam mulutnya. Aaahhh.. hangat dan basah.

Ujang menghentikan ciumannya. Dengan pandangan penuh nafsu, dia mengontrol kepalaku dan membimbingnya turun. Saya amat memuja tubuhnya. Cepat-cepat kujilati tubuh kekarnya yang penuh keringat itu. Benar-benar tubuh maskulin yang amat sempurna, bagaikan patung Yunani kuno. Sungguh sulit dipercaya tubuh indah seperti itu adalah milik seorang abang tukang bangunan. Dadanya kujilati dan sempat kukulum salah satu putingnya yang berwarna coklat tua. Dapat kurasakan bulu-bulu halus di putingnya menggelitik mulutku. Aaahh... nikmat sekali.

Ujang nampak puas dengan servis jilatku. Tubuhnya berkilauan dengan air liurku, dan dia pun makin ngaceng. Kontolnya menusuk-nusuk tubuhku, seolah ingin melubanginya. Saya tahu apa yang dia mau. Maka tanpa ragu, saya pengulum kontolnya. Begitu bibirku mengatup di antara batang kontolnya, bau khas laki-laki menusuk hidungku. Jelas sekali Ujang malas membersihkan kontolnya. Bu pejuh kering bercampur dengan keringat serta air kencing berpadu menjadi satu. Saya merasa seperti disihir. Tanpa takut dan ragu, saya mulai memompa kontolnya dengan mulutku. Kuberikan servisku yang terbaik. Kujilaiti kepala kontolnya, lalu lubang kontolnya, dan juga bagian bawah kepala kontolnya. Ujang mengerang-ngerang kenikmatan, sambil meremas-remas dadaku. "AARRGH!! Ya, hisap terus kontol gua.. Hisap gue... kontol Ujang memang yang terbaik... ayo, hisap yang kuat... aaaarrrgghh..."

Mendengar erangannya, saya menjadi semakin terangsang, apalagi Udin masih asyik menghisap kontolku. Ah, tak terbayang nikmatnya menghisap kontol cowok sambil dihisapin pula. Kontolku terus berdenyut, dan melelehkan cairan precum. Semuanya habis dijilat Udin yang haus akan cairan kelelakianku. SLURP! SLURP! Begitu bunyinya. Semakin lama Udin mengjisap kontolku, semakin besar keinginanku untuk ngecret di dalam mulutnya. Tekanan di dalam biji pelerku makin besar dan pelan-pelan pejuhku mulai mengalir naik. Astaga, sebentar lagi saya akan ngecret! Nafasku mulai memburu dan nampaknya Ujang dan Udin mengetahuinya. Dengan cekatan, Udin menekankan jari-jarinya tepat di bawah kontolku kuat-kuat. Dan pada saat itu pula, saya ngecret. "MMPPHH!!!... UUUGGHH!!! MMMPPPHHH!!! MMMMMPPPPHH!!!" Orgasme mengguncang tubuhku. CRROOTT!! CCRROOTT!! Kurasakan kontolku menembakkan pejuh berkali-kali, namun aneh, kenapa tak ada pejuh yang mengalir keluar. Setelah semuanya berakhir, saya terduduk lemas, tapi saya tetap menghisap kontol Ujang dengan semangat. Udin sibuk menjilati sisa precum pada kontolku. Erangan-eranganku tadi tertahan oleh kontol Ujang yang tersumpal di dalam mulutku. Erangan-eranganku bergetar-getar di dalam rongga mulutku dan merangsang kontol Ujang.

Tak pelak lagi, kini giliran Ujang untuk menumpahkan cairan kontolnya. "UUGGHH!! Bangsat! Gue mau ngecret... bersiaplah..." Dengan penuh tenaga, Ujang memegang kepalaku lalu pinggulnya didorong maju sehingga kontolnya nyaris menyumbat kerongkonganku. "AAAARRRGGHHH!!!!!" Dengan jeritan yang memekakkan telinga, Ujang pun menumpahkan semua isi biji pelernya tepat ke dalam kerongkonganku. CCRRROOTT!!! CCRROOTT!!! CCCRROOTT!!! Saya tak perlu menelannya sebab kepala kontolnya langusng menembakkan pejuhnya ke dalam perutku. Cairan hangat kental dari kontolnya meluncur turun kerongkonganku. Rasanya erotis sekali. Sambil mengejang-ngejang, Ujang menghentak-hentakkan pinggulnya dan tetap mengerang. "UUUGGHH... AAAGGHH.... OOOOHHH... AARRGGHH..." CRRROTT!!! CCRROOTT!!! CRROOTT!!! Dan akhirnya semuanya selesai. Tapi semua belum berakhir.

Udin memeluk tubuhku dan menggulingkannya. Dia lalu segera berbaring di samping tubuh telanjangku secara menyamping. Tubuhku menghadap ke arah lain dengan pantatku menghadap kontolnya. Tiba-tiba, dengan bernafsu, dia memelukku dan menarik tubuhku kuat-kuat. "AARRGGHH!!!" teriakku. Udin sendiri hanya menyuarakan "MMPPHH!!!" saat kontol besar miliknya menghujam masuk ke dalam lubang pantatku yang masih perjaka. Tanpa ampun, kepala kontol itu menarik lubang anusku lebar-lebar. Kesakitan, saya meronta-ronta namun Udin memegangku dengan kuat. Ujang terangsang sekali melihat rasa sakit yang kualami; kontolnya kembali ngaceng. "AARRGHH!! Sakit, bang!... Ampun," tangisku. Namun Udin tak mempedulikanku.

Sambil tetap menyodomiku, dia berusaha untuk berkata di antara helaan napasnya. "Loe suka 'kan... UGH! Kontol gue di dalam loe... ARGH! OOHH! FUCK YOU! Gue ngentotin cowok Cina... ARGh!" Saya hanya dapat pasrah. Rasa sakit di anusku semakin bertambah parah saja. Kontol Udin menghajar pantatku tanpa ampun. Air mataku terus mengalir keluar, rasanya sakit tak terkira. Namun aneh, saya malah menyukainya. Udin sedang memakai tubuhku untuk kepuasan seksualnya. Entah kenapa, tapi pikiran itu malah membuatku semakin terangsang. Selama beberapa saat, saya merasa seperti akan buang air besar. Tekanan dalam ususku bertambah besar. Llau saya teringat akan sebuah artikel yang kubaca bahwa ketika pertama kali disodomi, perasaan palsu itu memang muncul karena usus tertipu dan mengira kontol yang sedang menyodomi itu adalah kotoran manusia.

Tiba-tiba kontol Udin mengenai sesuatu jauh di dalam tubuhku. "AARGGHH!!!" erangku. Begitu organ itu tersentuh, tiba-tiba saya merasa 'kesetrum'. Gelombang orgasme yang luar biasa menyapu seluruh tubuhku, seakan-akan saya sedang orgasme. Ujang menatapku dengan mata berbinar-binar, ingin mencicipi pantatku, namun Udin tak mengizinkannya sebab dia sedang sibuk ngentotin saya. Maka Ujang pun menemukan ide hebat.

"Din, loe berbaring di bawah dan dia di atas. Lalu gue bakal bergabung dengan loe," katanya. "Gue pernah liat adegan ini di film bokep homo. Dan keliatannya enak, tuh."

"Gile loe. Tapi boleh jugam, tuh," sahut Udin terengah-engah.

Saya agak takut mendengar ide Ujang, namun saya juga terangsang. Doble-fuck terdengar erotis. Sakit tapi nikmat. Maka Udin pun berguling sambil tetap menyodomiku. Kini dia berada di bawah dan saya menimpa tubuhnya. Kontolnya masih tertanam di dalam lobang pantatku, memompaku tanpa ampun. Pada saat tulah, Ujang menimpa tubuhku. Bibirnya menempel pada bibirku dan pria bejat itu kembali menciumiku. Sambil mencium, Ujang memposisikan kontolnya tepat di bawah kontol Udin yang sedang sibuk memompaku. Tiba-tiba Ujang memaksakan kontolnya masuk. Kontol itu, dibantu oleh cairan precum, mulai membuka luang anusku lebih besar lagi. Kurasakan lubangku tertarik semakin leabr, seakan ingin robek. "AAARRRGGGHHH!!!!!!" erangku, sakit sekali. Hal itu tidak mudah sebab lubangku ketat sekali. Ujang hampir frustasi namun dia pantang mundur. Pelan tapi pasti, kontolnya membor lubangku. Begitu ada celah, kepala kontol Ujang menyelip masuk dan terus memaksa masuk. "AAARRGGHH!!! Ampun, Bang!" tangisku lagi.

"SSSttt... Diam aja. Nikmat sekali kok. Bayangkan dua kontol gede di lobang loe. Enak lagi," bujuk Ujang. Namun saya tetap menjerit dan menjerit. Akhirnya PLOP! Kontol Ujang masuk! Kini lubangku terasa penuh sekali. Kedua kontol itu berebut tempat di dalam anusku, sesak sekali rasanya. Udin dan Ujang pun mendesah keenakkan. Kemudian, secara bergantian, mereka memompa pantatku. Ritme mereka adalah jika Udin menusuk masuk, maka Ujang akan menarik keluar; dan begitu sebaliknya. Mereka kompak sekali sampai-sampai saya terlena dibuatnya. Rasa sakit itu pelan-pelan memudar. Sungguh nikmat sekali!!! Satu lubang ketat diisi DUA KONTOL sekaligus! Bayangkan! Tubuhku terguncang-guncang, mengikuti irama sodokan kontol mereka. Tubuh Ujang yang besar dan berotot menimpa tubuhku dan menahannya di sana. Kira-kira setengah jam berlalu. Mereka memang sengaja menahan laju ejakulasi mereka untuk memperlama permainan. Oh, mereka sungguh tahu cara memuaskan sorang gay 'bottom' sepertiku. Namun, semua hal mesti berakhir, begitu pula permainan panas ini.

Kontol Udin mulai berdenyut-denyut tak karuan. Denyutannya menggesek-gesek kepala kontol Ujang dan memicu denyutannya. Berdua mereka mengerang-ngerang seakan-akan sedang dalam kesakitan yang teramat sangat. Ekspresi muka mereka pun menunjukkan rasa sakit. Namun mereka tidak kesakitan sama sekali. Sebaliknya, mereka sedang dilanda rasa nikmat yang amat teramat sangat. Rasa nikmat yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

"UGH! Oohh... hhoosshh... oooohh...aaahhh... gue...ooohh... mau kke.. hhooshh... keluar," erang Udin, kedua tangannya mencengkeram pinggangku kuat-kuat.

"Aaahhh... gue juga...oooohhh...hhooossshh... uugh..." balas Ujang. Semakin lama, tubuh telanjang Ujang yang menggairahkan itu semakin menekan tubuhku. Tak ayal lagi, perutnya yang kotak-kotak itu menggesek-gesek kontolku. Kontolku terperangkap dan tergesek-gesek mengikuti sodokan kontolnya. Secara tak langsung, Ujang sedang men-coli kontolku dengan perutnya!

"ARGh! Gue sampe," teriak Udin dan muncratlah pejuhnya. CRROTT!!! CCROOTT!!! CCRROOTT!! "AAAAAARRGGHH...!!!! Erangnya, panjang sekali seperti lolongan serigala. Kepala kontolnya menggembung sedikit dan terus-menerus menembakkan pejuhnya. Kontan saja perutku dibanjiri cairan lava putih yang mendidih. Ejakulasi Udin memicu ejakulasi Ujang. Pria ganteng itu pun mulai mengejang-ngejang dan berteriak-teriak. "UUUGGHH!!! OOOHHH!!!!" CRROOTT!!! CCRROOTT!! CCRROOTT!!! Tubuhnya berguncang-guncang dan gerakannya memicu orgasmeku. "AAARRRGGHH...!!!!" erangku saat kepala kontolku mulai menembakkan pejuh. CCROOTT!!! CCROOTT!!! CCRROOTT!!! Pejuhku tersemprot mengotori tubuhku dan tubuh Ujang. Berhubung pejuhku amat banyak, sebagian mengalir turun dan mengotori ranjangku serta tubuh Udin yang berada di bawahku. Bertiga kami mengerang-erang, terguncang-guncang, dikuasai nafsu homoseksual. "AAGGHH!!! UUUGGHH!! OOOHH!!!! AAAHHH!!!!" Dan semuanya berakhir beberapa saat kemudian. Tubuh kami basah dengan keringat bagaikan mandi uap, dan kami kesulitan menghela napas. Rasanya capek sekali, namun juga nikmat. Kami puas sekali. Terutama Ujang dan Udin, karena mereka akhirnya dapat mencicipi enaknya ngentotin cowok Chinese sepertiku.

Begitu Ujang mencabut kontolnya, pejuhnya meleleh keluar dari lubang pantatku. Dan saat saya mengangkat tubuhku, kontol Udin terlepas diikuti dengan lelehan pejuh yang jauh lebih banyak lagi. Perutku menggembung karena pejuh, rasanya penuh sekali. Ujang tersenyum nakal padaku. Tanpa dikomando, Udin dan Ujang mengangkat tubuhku lalu mereka membawaku keluar kamar dan masuk ke kamar mandi. Di sana, saya terpaksa harus berjongkok bermenit-menit hanya untuk mengeluarkan pejuh mereka dari lubang pantatku. Setelah itu, kami mandi bertiga sambil saling meraba-raba. Tak ayal lagi, kontol kami pun ngaceng lagi.

"Waduh, tegang lagi nih," keluh Ujang, matanya mengerdip nakal padaku. "Mau lagi?" Langsung saja, saya mengangguk. Tanpa basa-basi lagi, mereka kembali menyodomiku. Masih dengan double fuck tapi kali ini smabil berdiri. Saya hanya dapat mengerang-erang, nikmat sekaligus keskitan, sambil berpegangan erat-erat pada tubuh Ujang ketika Ujang menancapkan batangnya ke dalam tubuhku. Sementara itu, Udin menyodok lubangku dari belakang. Aahhh nikmatnya double fuck! Tak lama kemudian, kami pun mencapai klimak dan... AAARRGGHH!!! UUUGGHH!!! OOOHH!!! AARRGGHH!!! Pejuh mereka kembali membanjiriku. CCRROT!! CCROOT!!! CCRROOTT!!! Oh sungguh hari yang tak terlupakan!

TAMAT


Cowok bule : Selalu telanjang bulat di rumah.

By Negus Johan Pahlawan

submitted January 17, 2004
Translate from:
To
Text Size:

Pada mulanya aku tak suka cowok bule.Mereka jarang mandi, jarang ganti baju, jarang gosok gigi,kalau cebok hanya pakai tissue tidak dibasuh air,badan-nya bau ketek, mulutnya bau jigong, kontolnya kulup tidak sunat dan mereka juga makan babi dan minum alkohol. Apalagi yang tersisa?

Tapi suatu kali semuanya berubah. Anehnya sikapku berubah secara bertahap tidak sekali gus!Mulanya kau kenal Arthur, cowok yang bokapnya Indonesia dan nyokapnya Amerika, dia bersih, sunat, cebok tidak bau ketek, meskipun bulu keteknya lumayan banyak! Kami ngentot di rumahnya di Kemang. Tapi sekarang dia sudah pindah ke Amerika. Bokapnya tidak bisa kerja di Indonesia, mungkin gaji kecil?

Percabulanku dengan Arthur cukup berkesan, gila-nya kami entot-entotan di bool tanpa kondom. Aku sempat stress takut tertular AIDS. Setelah sadar, aku baru ingat banyak bule yang sakit AIDS. Tapi untungnya sampai sekarang aku masih OK OK saja, darahku masih HIV negatif! Ngentot dengan Arthur memang nikmatt banget! Gila! Sayang dia pergi dan tak pernah memberi kabar!

Lalu aku pernah juga main gila dengan Jason[dibaca Jeisen] yang tampang, badan dan juga bagian dalam tubuhnya mirip sekali dengan Jason Tedjasukmana, wartawan free lance yang juga broadcaster TV itu.

Jason-ku [yang mirip Jason Tedjasukmana] banyak bulunya di badan, di ketek, di jembut, lengan dan tungkai. Tapi bulunya halus, jadi masih enak juga kalau dielus-elus atau digesek-gesekkan di bagian badanku, apalagi di kontolku. Asyik! Nikmatt!

Jason ini tidak terlalu suka sodomi, memang betul dia pernah minta mencobai bool-ku, untuk diembat dengan kontol bulenya, tapi aku tolak! Dia tidak marah atau memaksa, sebab cepat-cepat aku kulum kontolnya sampai dia merem-melek keenakan terus berdesis seperti ular: Hhhsst.. Hhhsst.. Hhhsst.. sambil sumpah serapah bahasa Inggris :"Shit!It's so damn good ...aaaargh! More ... more... more.. faster .. faster ..aaargh! Good ..good ..good!"

Begitu intens kami berdua bergoyang-goyang, aku terus mau menambah kenikmatan di bagian-bagian kontolnya dan Jason juga menggeliat-geliat untuk menambah kenikmatan di badan dan kontolnya. Kami sampai bercucuran keringat, lupa diri...! Ta'i!

Kami terus main gila,sampai sudah capek dan bosan menjilati kontol Si Jason Bule Sialan itu. Akhir-nya lobang kencingnya aku jilat, jilat, jilat dan jilat dan akhirnya Jason tak bisa mempertahankan lagi pejuhnya dan terpaksa harus dia muncratkan, lalu.. AAAAARGH! CROOOOOOT! CROOOOOOT! CROOOOOOT!

Pejuh bulenya muncrat meloncat-loncat dari lobang kencingnya bagaikan semburan-semburan lava gunung Merapi dan Merbabu!Pejuh yang dikeluarkan sekali-sekali aku jilati dengan lidahku.Agh nikmat juga. Itulah pertama kalinya aku mencicipi pejuh bule yang lender,tapi tak beda dengan pejuh yang biasa aku nikmati,pejuh cowok-cowok kita sendiri,Bangsa Indonesia tercinta! Ta'i!

Aku juga senang menjilati puting susu Jason. Juga keteknya dan seluruh tubuhnya yang berambut halus itu. Susahnya, bulu-bulu badannya sering menempel di lidahku. Jadi aku harus bolak-balik membersih-kan lidahku dari bulu-bulu badan Jason, Si Bule Sialan itu! Unik bukan? Ta'i!

Setelah terbiasa menikmati badan, bulu, keringat, dan pejuh bule,barulah aku mulai memperluas klien cabulku antar bangsa! Ada bule, ada campuran Cina Jepang, ada Filipina sialan,dan entah siapa lagi! Pokoknya asal cowok cakep, badan keker, kontolnya gatel, aku siap mangap dan pasang badan! Ta'i!

Sebetulnya ngentot dengan Filipino sialan sama nikmatnya dengan ngentot dengan bangsa sendiri, Bangsa Indonesia! Cowok Filipino semua kontolnya sunat! Hanya kadang-kadang aku nggak tahan bau keteknya dan aku nggak suka kalau mereka sudah ngomong rasanya suara mereka - meski pakai Bahasa Inggris,tapi terdengarnya kampungan!Apalagi kalau mereka ngomomg campur-campuran Tagalog Inggris [Taglish].Kedengarannya kampungan banget!Aku jadi nggak berselera untuk melanjutkan percabulan itu. Kontol!

Yang terakhir ini aku main-main gila dengan orang Perancis : Jean [dibaca Zyang].Seperti juga Jason dan Frank Schowburg, Jean kalau di rumah selalu telanjang bulat saja. Jadi, khusus untuk lelaki bule "biasa", mereka telanjang bulat waktu tidur dan mandi. Tetapi untuk cowok bule yang homosex, sepanjang hari. Kalau di rumah, selalu telanjang bulat saja tidak berpenutup selembar benang pun juga! Kebiasaan "baik" ini juga dipraktekkan oleh banyak aktor-aktor kita, pemain sinetron cowok yang cekep-cakep,tapi sebetulnya homosex.Di rumah di apartemen mereka,mereka tak pernah berpakaian. Ada yang mengeluh karena hawa terlalu panas, ada juga yang mengatakan dia merasa lebih sehat tanpa penutup karena merasa jadi : naturalis, kembali ke alam liar! Beberapa aktor yang mempraktekkan no clothe at home - ini mengatakan, karena selalu telanjang bulat, kontol mereka jadinya terangsang terus. Akibatnya, mereka bolak-balik merasa ingin mengocok kontolnya,ngeloco,coli, alias onani atau masturbasi! Kata pakar, itu adalah efek samping dari kebiasaan "baik" telanjang bulat sepanjang hari di rumah!Untuk memfasilitasi keperluan harus ngeloco sepanjang hari, maka beberapa aktor yang bintang sinetron terpaksa harus mengkonsumsi obat aphrodisiac atau obat penambah nafsu seks secara teratur! Jadi mereka bisa ngeloco kapan saja, di mana saja, seperti minum Coca Cola. Gila!

Untungnya, bule-bule sialan ini masih juga punya perasaan. Kalau ada tamu, mereka langsung pakai celana boxer,sekedar menutupi,kontol, biji peler, jembut dan belahan pantat mereka. Mereka juga tak mau telanjang kalau ada lawan jenis. Tapi kalau ada orang yang sejenis [sesama cowok], biasanya mereka malahan sekalian mengajak supaya cowok itu telanjang bulat. Tidak heran jika, Enes [Johanis] supir Jean juga harus bertelanjang bulat kalau sedang berada di apartemen Jean, yang letaknya di Kawasan Segitiga Emas itu! Aku pun, kalau sedang jaga di apartemen Jean, harus lepas pakaian alias bugil - telanjang bulat!Bagiku tidak ada masalah, karena tubuhku dan bagian-bagian tubuhku, juga termasuk kontol, biji peler dan jembutku, enak dilihat [kata orang]. Semua itu adalah hasil dari latihan fisik intens, termasuk jogging, berenang dan tentu latihan beban!

Waktu Jean pulang ke kampungnya di Perancis - di desa Colombey Les Deux Eglises, aku disuruh jaga menunggui apartemennya berduaan dengan Enes.Tentu saja kami berdua tak putus-putusnya entot-entotan sampai dengkulku terasa lemes,keseringan muncrat!

[Ta'i!]

2 komentar: